Tidak Ada Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Pesantren Al-Khoirot

Tidak ada Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Pesantren Al-Khoirot. Itu terjadi karena pemisahan putra dan putri secara total meliputi gedung, guru, ustadz dan pengasuh (kyai).

Keterangan gambar:

Kegiatan belajar mengajar (KBM) pesantren Al-Khoirot dilakukan secara terpisah secara total antara putra dan putri.

Daftar isi

  1. Segregasi (pemisahan) Total Putra dan Putri
  2. Pelecehan Seksual di Pesantren Lain, akar masalah dan solusinya
  3. Pentingnya segregasi laki-laki perempuan di Pesantren


Segregasi (pemisahan) Total Putra dan Putri

Aspek-aspek segregasi putra putra di pesantren Al-Khoirot

a) Di Al-Khoirot putra dan putri memiliki gedung sekolah yang berbeda. Gedung sekolah putra di kawasan pesantren putra, sedangkan gedung sekolah putri berada di kawasan kompleks pesantren putri.

b) Guru sekolah formal laki-laki MTS dan MA hanya mengajar siswa putra,  sedangkan guru perempuan MTS dan MA hanya mengajar siswa putri.

c) Ustadz madrasah diniyah (madin), tahfidz, bahasa Arab modern, yang laki-laki hanya mengajar santri putra, sedangkan ustadz madin, ustadz tahfidz, ustadz lughah Arabiyah,  perempuan hanya mengajar santri putri.

d) Bahkan, wisuda lulusan juga dibuat terpisah. Wisuda siswa MTS, MA, Madin, Tahfidz dan Lughah dibuat secara terpisah. Wisuda putra dan wisuda putri.

e) Ada satu “pegecualian.” Yaitu, pimpinan tertinggi pesantren, yang disebut kyai atau pengasuh, mengajar kitab kuning pada seluruh santri. Baik santri putra maupun putri. Namun, kyai mengajar di masjid laki-laki di depan para santri putra. Sedangkan santri putri mengikuti pengajian dari jauh. Dari musholla putri. Santri putri mengikuti pengajian kyai/pengasuh melalui layar proyektor. Jarak masjid putra di bagian selatan dengan musolla putri di bagian utara sekitar 50 meter.

Adapun pengasuh putri, biasa disebut Ibu Nyai, hanya mengajar santri putri saja.

f) Kyai tidak pernah berinteraksi dengan santri putri/perempuan secara langsung, sebagaimana Bu Nyai tidak pernah berinteraksi dengan santri putra secara langsung.

g) Kyai dan seluruh tenaga pengajar laki-laki tidak pernah bersalaman (berjabat tangan) dengan murid perempuan, sebagaimana Bu Nyai dan seluruh tenaga pengajar perempuan tidak pernah bersalaman dengan murid/santri laki-laki.

h) Bahkan, kyai di Al-Khoirot tidak pernah menemui tamu perempuan, sebagaimana Bu Nyai tidak pernah menemui tamu laki-laki. Kecuali dalam kasus tertentu di mana seorang tamu perempuan hendak mengikuti ijazah hizib tertentu, seperti ijazah Sungai Rajeh dan Kajuen Rajeh, maka biasanya mereka akan bertemu langsung dengan kyai pemberi ijazah dengan ditemani oleh suami atau mahramnya.

Itulah sebabnya, pelecehan seksual tidak pernah terjadi di Pesantren Al-Khoirot. Begitu juga, perselingkuhan atau skandal lainnya tidak pernah terjadi sejauh ini, sepanjang sejarah pesantren Al-Khoirot yang didirikan pada 1963. Hal ini disebabkan karena pintu pertama untuk terjadinya fitnah telah ditutup rapat-rapat. Tentu kami berdoa agar pesantren Al-Khoirot dilindungi dari skandal apapun dan tetap istiqamah dalam jalan syariah. Amin.

Pelecehan Seksual di Pesantren Lain, akar masalah dan solusinya

Pelecehan seksual di pesantren lain amat sangat jarang terjadi.

Namun, beberapa tahun terakhir sejumlah peristiwa yang sangat memalukan dan mencoreng kredibilitas pesantren itu terjadi. Saat melakukan pencarian di Google, pada 1 Maret 2023, dengan kata kunci “pelecehan seksual di pesantren”, maka terdapat 1.6 juta lebih hasil pencarian yang membahas topik terkait. (lihat gambar)

Dan pada kasus terjadinya skandal itu, hampir semua peristiwa disebabkan dan dimulai oleh adanya interaksi antara laki-laki dan perempuan. Mulai dari pengasuh, tenaga pengajar, maupun sesama santri.

Oleh karena itu, ketika hendak memondokkan anak, para orang tua hendaknya memastikan sistem di pesantren yang dituju. Apakah ada interaksi santri putra dan santri putri, interaksi tenaga pengajar laki-laki dan tenaga pengajar perempuan, atau interaksi antara tenaga pengajar laki-laki dengan santri putri, interaksi tenaga pengajar perempuan dengan santri putra, dst.


Pentingnya segregasi laki-laki perempuan di Pesantren

Mengapa hal ini, pemisahan lawan jenis, perlu jadi perhatian utama? Karena, kehidupan di dunia pesantren dijalani selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan sepanjang tahun. Apabila interaksi putra putri diperbolehkan secara bebas, maka godaan berat akan terjadi dan akan berakhir menjadi skandal memalukan seperti yang terjadi pada sejumlah kasus yang ramai di media online dan medsos

Ini berbeda kasusnya di pendidikan non-pesantren. Di mana mereka hanya berinteraksi pada siang hari pada jam yang terbatas. Yakni selama jam sekolah saja. Setelah itu, mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Yang model seperti ini pun masih terjadi skandal pelecehan maupun perselingkuhan, namun masyarakat sedikit “memaklumi” karena mereka ini tidak membawa nama dan simbol agama. Ini berbeda dengan pesantren.

Pesantren adalah representasi dari moralitas, budi pekerti luhur dan akhlak mulia. Masyarakat memiliki harapan tinggi pada pesantren dan pada para ustad dan kyai di dalamnya. Sehingga, skandal pelecehan sama sekali sulit diterima oleh nalar waras masyarakat. Dan itu wajar dan sangat dibenarkan.

Oleh karena itu, solusi terbaik untuk menghindari terulangnya peristiwa seperti ini adalah dengan diberlakukannya pemisahan putra-putri secara total seperti yang dilakukan Al-Khoirot. Dan bagi wali santri/orang tua agar mencari pesantren yang memberlakukan sistem seperti itu demi terjaminnya keamanan anak anda, terutama anak perempuan.[]