Archive for Mei, 2006


Ramlan Efendi

Sudah lama saya tidak ketemu Ramlan Efendi, saya merasa kangen. Di mata saya dia teman yg baik dan hangat. Kehangatannya dalam bersikap kepada siapa saja bagi saya suatu pertanda bahwa ia akan menjadi “orang” kelak di lingkungan masyarakatnya. Ilmu dan gelar tentu penting. Itu jembatan pertama. Keluwesan dan kehangatan dalam bergaul itu menjadi syarat kedua tapi terkadang malah lebih penting. Ramlan punya keduanya.

Karena kangen dan mau nelpon belum “gajian,” akhirnya saya tumpahkan kekangenan saya dg mencari namanya di google (googling). Akhirnya saya dibawa google ke sebuah situs http://www.islamiccentersiak.com yg ada namanya di jajaran kepengurusan.

Cukup mengejutkan bahwa Ramlan yg baru lulus S2 tahun kemaren langsung berada di posisi Manajer Pengkajian, Penelitian, Pengembangan Budaya Melayu dan Islam

Institusi ini tampaknya cukup bergengsi karena salah satu proyek pemerintah di mana dewan penasihatnya a.l. Jenderal (Purn.) Syarwan Hamid, mantan menteri dalam negeri.

Saya yakin karir Ramlan, yg baru menikah dg seorang dokter ini, tidak hanya di sini. Masih panjang jalan ke depan. Kehangatannya pada siapa saja, kesiapannya untuk membantu yg memerlukan bantuannya dan keberaniannya bernegosiasi dg siapapun tanpa memandang jabatan lawan bicaranya akan menjadi tempat check-in untuk mendapatkan boarding pass pesawat karir yg lebih tinggi dan menjanjikan ke depan. Semoga.

Berpura-pura Baik

Mana yg lebih Anda pilih antara bersikap baik yg pura-pura dan jahat yg “ikhlas,” antara dermawan pura-pura atau pelit yg tulus, antara sopan palsu atau tidak beradab yg jujur, antara sikap etis normatif yg dibuat-buat dg sikap layaknya bagai ‘tidak pernah makan sekolah’ tapi asli?

Sebagaimana dalam opini apapun, hal yg satu ini juga mengandung kontroversi. Dan itu dimaklumi namanya juga manusia. Namun demikian, apabila standar umum dipakai, maka pendapat mayoritas akan berpihak pada yg pertama: lebih bagus berpura-pura baik, berpura-pura sopan, berpura-pura dermawan, berpura-pura beradab daripada “ikhlas, jujur dan tulus” dalam kekurangan-ajaran, kepelitan, ketidaketisan, kekurangberadaban dan keculasan.
Mengapa demikian? Banyak fakta yg bisa kita ambil dalam kehidupan sehari-hari baik dalam dunia bisnis murni, bisnis hiburan, kehidupan beragama, dll yg mendukung tesis perlunya berpura-pura baik daripada jujur dalam ketidakbaikan.

Beberapa contoh kecil sbb:

(a) John Robert Powers Jakarta, pimpinan Indayati Oetomo, adalah lembaga pengembangan kepribadian yg salah satu layanannya adalah ‘mempelajari cara memahami diri sendiri baik secara fisik, moral maupun kemampuan berpikir.’ Artinya, setelah mendapat pelatihan yg cukup di JRP ini, peserta diharapkan dapat “berpura-pura” bersikap dan berperilaku yg sesuai dg norma-norma pergaulan yg standar sehingga dg demikian diharapkan apapun yg dilakukan oleh peserta JRP dalam berbisnis akan semakin menarik dan mengesankan siapapun yg berhubungan dengannya baik itu klien, kolega, atasan, bawahan, dll. JRP Indonesia adalah cabang dari JRP internasional yg berpusat di Amerika Serikat.

(b) Sejak kecil kita diajari dan diberitahu orang tua kita apa yg baik dan mesti atau sebaiknya dilakukan; dan apa yg tidak baik atau tabu yg sebaiknya dihindari. Pada dasarnya ini juga pembelajaran untuk “berpura-pura” baik yg terkadang bertentangan dg insting kita tapi harus kita ikuti.

(c) Semua orang Indonesia adalah pemeluk agama tertentu, baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll. Dalam kitab-kitab suci kita masing-masing kembali nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan nilai-nilai keburukan dilarang dan diperintah untuk dijauhi. Intinya, agama juga memerintahkan kita untuk “berpura-pura” baik.

Mengapa kita harus berbuat dan berperilaku yg baik bahkan kalau perlu dilakukan dg berpura-pura? Terlalu panjang untuk dianalisa satu-persatu, namun intinya adalah (1) untuk memelihara tatatan sosial yg baik, dan (2) menghindari anarki (keributan) dan permusuhan yg apabila dua poin ini dapat diimplementasi, maka diharapkan akan tercapailah tujuan hidup utama umat manusia yg selalu dicari dan didambakan, yaitu kebahagiaan.

Karena kebahagiaan hanya dapat dicapai apabila setiap individu berperilaku sesuai dg standar norma sosial dan etika, maka berpura-pura baik sangat dianjurkan daripada ketiakberadaban yg “tulus ikhlas.” Setidaknya ini sebagai langkah pertama menuju tangga berikutnya di mana berbuat dan berperilaku baik sudah menjadi insting perilaku keseharian.

Last but not the least, apapun yg sudah dan sedang kita lakukan; baik atau buruk, akan memiliki konsekuensinya sendiri dan akan menjadi patokan orang-orang sekitar kita akan kredibilitas kepribadian kita.[]