Archive for April, 2006


Studi Banding

Di Malang ada satu sekolah dasar unggulan, namanya Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Malang yg lebih dikenal dg sebutan MIN 1 Malang. Murid-muridnya sering menjuarai kompetisi nasional dan fasih berbahasa Inggris dan Arab. Jangan lupa, mereka baru berumur antara 5 – 12 tahun. Sekolah ini juga mengadakan kemitraan dg lembaga pendidikan internasional seperti Comboyne Public School Hill, New South Wales, Australia dan Seaford Primary School, Australia.

Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak institusi pendidikan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke datang berbondong-bondong ke MIN 1 Malang untuk melihat lebih dekat rahasia sukses dari institusi ini. Anda sendiri bisa membuat “studi banding” dg melongok situs/website resmi MIN 1 Malang di sini. Anda juga bisa “memamerkan” situs ini pada kolega/teman kampus dari negara lain karena situs ini juga menyediakan info dalam bahasa Inggris.

Pelajaran terpenting bagi kita adalah mengapa kesuksesan selalu dijadikan kajian perbandingan pihak lain yg, katakanlah, belum mencapai prestasi yg sama? Jawabnya, karena salah satu cara paling bermanfaat dan efektif untuk sukses adalah dg melihat dan mempelajari pihak yg sudah sukses dan meneladaninya sesuai dg kemampuan yg ada.

Hal ini juga berlaku bagi pengembangan kepribadian. Agar seseorang mencapai kesuksesan individual yg maksimal, maka dia perlu memperbanyak mengadakan studi banding; atau membandingkan dirinya dg individu lain yg jauh lebih berhasil dari dirinya dg antara lain membaca biografinya, membaca hasil karyanya (dalam bentuk tulisan atau buku), membaca bahasan orang tentang dia, dan kalau mungkin dan ada peluang bertemu muka dg orang sukses tadi untuk sekedar ngobrol dan meminta saran dan tips. Pertemuan personal dg orang-orang sukses akan sangat membantu mengangkat dan memotivasi jiwa kita untuk juga memiliki determinasi yg sama atau mungkin lebih tinggi.

Apa indikasi kesuksesan?

Tentu saja setiap orang memiliki ukuran sendiri. Bagi seorang intelektual, kesuksesan dapat diukur dari seproduktif apa dia berkarya atau menulis baik dalam bentuk buku, tulisan di jurnal internasional, jurnal nasional, jurnal kampus, di majalah atau koran. Dan sebarapa jauh ide-ide dalam karyanya memiliki pengaruh dan warna dalam level internasional, nasional/daerah.

Bagi pebisnis, kesuksesan tentu saja dalam segi seberapa banyak dia berhasil berinovasi sehingga dapat mengeruk uang banyak dalam waktu singkat dan seberapa cepat dia dapat meniti tangga sebagai 300 besar orang terkaya dunia versi majalah FORBES. Dan seterusnya, dst.

Studi banding inter-personal tentu lebih rumit dibanding studi komparasi antar-institusi. Dalam studi banding personal diperlukan “jiwa robot” dalam arti diperlukan kemampuan yg dapat memilah-milah mana yg baik yg perlu diteladani dan mana unsur kelemahan pada pribadi sukses yg tak perlu ditiru tapi juga tak perlu dibahas. Di sini diperlukan jiwa yg independen.

Pribadi Independen

Ia adalah pribadi yg cool yg memiliki kematangan dan kemampuan jiwa yg merdeka untuk secara efektif menilai, meniru dan meneladani langkah-langkah baik yg dilakukan pribadi sukses; dan pada yg sama ia juga memiliki pandangan tajam melihat sisi-sisi negatif/kelemahan dari pribadi yg sukses tsb. dan mengabaikannya dalam arti tidak menirunya, tapi juga tidak mau membuang waktu untuk mencaci atau meributkannya. Karena ia tahu, hal itu tidak efektif dan tidak bermanfaat bagi proses pendewasaan dirinya dan pada waktu yg sama justru akan semakin menjauhkan dirinya dari proses pembelajaran.

Dengan demikian, pribadi independen itu tidak memiliki satu tokoh idola, tapi banyak. Karena setiap pribadi sukses adalah manusia dan manusia selalu lekat dg kelebihan dan kekurangan. Sebagai contoh, seorang intelektual muda Indonesia yg independen hendaknya tidak hanya menjadikan Gus Dur saja, atau Nurcholis Madjid saja, atau Ulil Abshar Abdalla saja, atau Aa Gym saja, atau Zainuddin MZ saja (bagi yg suka khutbah) sebagai tokoh idolanya. Tapi, ambil sisi-sisi positif dari semua tokoh itu; dan buang sisi-sisi negatifnya. Pribadi independen, dengan demikian, tidak akan memiliki pola pikir fanatik pada satu tokoh tertentu.

Dari sejumlah literatur biografi yg saya baca, hampir semua tokoh-tokoh sukses di berbagai bidang adalah mereka yg memiliki pribadi independen: yg kecintaan atau kebenciannya tidak tertumpu pada satu titik.

Universalisme Demokrasi

Oleh A Fatih Syuhud

Suara Karya Selasa, 11 April 2006

Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Soviet yang dibebaskan setelah hukuman penjara sembilan tahun, terkadang dianggap sebagai inspirasi untuk kebijakan perubahan rezim neo-konsevatif. Khusus mengenai pandangannya pada rasionalisasi neo-imperialisme terbaru dalam mencegah terjadinya prinsip kedaulatan nasional dengan atau tanpa intervensi bersenjata, dan tentang keefektivan aktual dalam menghasilkan perdamaian yang stabil.

Argumen Sharansky, seperti tersebut dalam bukunya The Case for Democracy: The Power of Freedom to Overcome Tyranny and Terror (dengan Ron Dermer, Public Affairs, New York 2004) adalah berdasarkan pada keyakinan bahwa apa pun rezim atau budaya, seluruh umat manusia pada dasarnya mencintai kebebasan, dan akan memilihnya apabila diberi kesempatan, sebagaimana yang terjadi pada Eropa Timur pada 1989. Dia juga berpendapat bahwa disiden di era moral hitam putih Uni Soviet membutuhkan kekuatan batin untuk melawan kejahatan.
Dalam membagi bangsa-bangsa ke dalam masyarakat yang bebas dan masyarakat yang takut (fear society), dia menggambarkan pemerintahan pada kelompok kedua sebagai merampas kebebasan, hak milik, budaya dan sejarah rakyatnya. Ketika teror internal tidak lagi ada, pemerintah semacam itu akan menciptakan lawan eksternal, baik riil atau hanya persepsi, guna memelihara dukungan populer. Dalam menghadapi ancaman eksternal, rakyat akan secara sukarela tunduk pada segala bentuk deprivasi dan ongkos yang mesti diemban: negara sebebas Amerika sekalipun telah mentoleransi perampasan hak kebebasan sipil pasca-11/9.

Mekanisme demokrasi menciptakan pemimpin yang bertanggung jawab yang tidak dapat terpilih kembali apabila mereka mengadopsi kebijakan agresif tanpa dukungan dari publik. Dengan demikian, demokrasi lebih enggan melakukan perang sekalipun apabila kepentingan nasionalnya sendiri memaksa melakukannya. Sharansky menyimpulkan bahwa karena sistem demokrasi bertindak sebagai rem pada individu agresif, maka hanya demokrasi yang dapat menjadi basis menuju perdamaian murni dalam bentuk apa pun.

Tesisnya ini didukung oleh kajian empiris yang menunjukkan bahwa masyarakat demokratis tidak akan berperang satu sama lain. Semuanya tergantung pada bagaimana demokrasi itu didefinisikan, dan dengan merasuknya demokrasi ke dalam berbagai budaya yang berbeda, banyak hal yang perlu direkonsiliasikan.

Ada dua hal berbeda yang cukup penting antara agenda Sharansky dan agenda yang dianut AS di Irak. Untuk “melunakkan” negara yang berpotensi ancaman, dia mendukung sanksi dan tekanan diplomatik yang dikaitkan dengan HAM, bukan intervensi militer langsung. Kedua, dia tidak sepakat dengan pengadaan pemilu di negara yang baru “dibebaskan”. Sebaliknya, dia lebih memilih periode interim selama tiga sampai empat tahun untuk membangun institusi sipil, membangun sistem kebebasan baru. Karena tesisnya ini berkaitan dengan masyarakat yang telah terbebas, maka teori ini tentunya tidak berlaku untuk kasus Irak saat ini.

Berbeda dengan kalangan realis, Sharansky menekankan perlunya moralitas dalam hubungan internasional. Akan tetapi pemahamannya atas moralitas berbeda dengan kalangan liberal Amerika dan Eropa yang kritiknya atas Reagan dan Bush dia anggap sebagai pembasmian moral, yang berdasar pada kurangnya analisis atas karakter sebenarnya dari totalitarianisme.

Kebebasan bukanlah ketakutan, tapi tatanan. Kebebasan harus dijaga dari pembusukan kebebasan mutlak dan kekacauan. Sebagaimana tatanan dari sikap opresif dan kejam. Akan tetapi kebutuhan sosial atas tatanan sama validnya dengan butuhnya individual atas kebebasan.

Kondisi tak stabil dapat membuka jalan ketertiban melalui rezim totalitarian, otoritarian, atau despot. Hal ini pada gilirannya akan mengecewakan dan mengaktifkan kemauan untuk bebas. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban, khusus untuk dunia ketiga, bagi pembangunan ekonomi.

Sharansky membuat dikotomi terlalu tajam antara demokrasi dan tirani, karena sejumlah rezim non-demokratik ada juga yang menghormati HAM.

Bangsa Tibet pada prakemerdekaan 1949, sebagai contoh, tidak dapat memenuhi separuh dari empat poin tes kebebasan Sharansky. Pertama, rakyat tidak dapat berbicara terus terang apabila itu bertujuan untuk mengeritik Dalai Lama. Kedua, mereka tidak dapat mempublikasikan (menyiarkan) opini yg menentang. Tetapi mereka, ini yang ketiga, bebas mengamalkan agama dan kepercayaan. Keempat, bebas mempelajari sejarah dan budaya mereka.

Begitu juga, Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew yang dikritik tajam karena mengekang kebebasan berpolitik, tapi berhasil gemilang dalam mengantar penduduk negara-kota itu menjadi terdidik, terintegrasi, makmur dan tenang.

Memang, humanisme modern dengan fondasi HAM mendapat tempat ekspresi terbaiknya pada sistem demokrasi. Akan tetapi paradigma HAM seperti yang terdapat dalam Universal Declaration itu sendiri agak kontroversial mengingat konsepsi dasarnya diambil dari nilai-nilai Yudeo-Kristen, yang dipandang oleh sebagian kalangan sebagai berbau kental nuansa kultur dan sosial barat dan karena itu bukan murni bernilai universal. Kehendak untuk tidak ditindas dan dikekang, keinginan untuk “bebas dari” rasa takut, jelas bernilai universal. Tetapi kebebasan dalam sistem demokrasi termasuk di dalamnya “bebas untuk” tak jarang bertentangan dengan budaya lokal, dan dapat dianggap sebagai ancaman pada kultur dan tatanan sosial yang ada.

Dengan demikian, proyek demokratisasi tampaknya menjadi tantangan pada esensi pluralisme umat manusia, kecuali apabila dibuat pemisahan jelas antara politik dan kultur, yang cukup problematik. Dalam dunia kontemporer, demokrasi sedang mendapat tempat sebagai bentuk pemerintahan ideal. Apabila ia terbukti fleksibel untuk beradaptasi, dan kultur setempat dapat menerima separonya saja, maksa aplikasinya dapat terus meningkat.

Apabila lebih banyak lagi negara yang terdemokratisasi tanpa serangan pada kedaulatan mereka, tidak seperti dalam kasus Irak, maka skenario terciptanya kesepakatan internasional semakin dimungkinkan. Ini bukan jaminan 100 persen menuju perdamaian, tetapi jelas dapat mengurangi potensi konflik.***

Penulis adalah mahasiswa
Ilmu Politik Agra University, India.

Sedekah Ego

Dari dulu saya suka dg adagium Inggris “Simplify Life and Follow the Sun.” Sederhanakan masalah, nikmati gemericik air yg mengalir (terjemahan bebas).

Simplifikasi masalah tentu beda dg over-simplifikasi atau terlalu menyederhanakan. Masalah yg kita hadapi sehari-hari akan selalu ada dan secara garis besar dapat dikategorikan dalam dua kelompok.

Pertama, masalah internal. Yakni masalah khas yg dihadapi setiap individu yg tak ada kaitannya dg orang lain. Contoh, jatah beasiswa atau kiriman dari rumah belum datang bagi mahasiswa. Atau konflik rumah tangga bagi yg sudah berkeluarga.

Kedua, masalah eksternal. Yaitu masalah sehari-hari yg berkaitan dg interaksi individu dg individu yg lain.
Berbagai permasalahan baik internal maupun eksternal umumnya adalah masalah kecil, namun tidak jarang itu berupa persoalan besar. Masalah eksternal kecil yg terjadi berulang-ulang juga biasanya akan berujung menjadi masalah besar. Kemampuan kita dalam menyaring mana masalah yg kecil dan mana yg besar akan sangat menentukan “karisma” kita sebagai individu di mata individu yg lain.

Masalah internal tentunya adalah masalah masing-masing individu. Tak ada seorang pun berhak ikut campur, kecuali apabila persoalan internal itu menyeberang garis batas dan menjadi problema eksternal. Sebagai contoh, apabila sikap individu “melanggar” undang-undang tak tertulis dalam komunitas lingkungannya.

Persoalan eksternal sama sekali berbeda. Di sini diperlukan pemahaman tinggi tentang hak dan kewajiban kita sendiri dan, pada waktu yg sama, memahami hak dan kewajiban orang lain.

1. Standar minimal manusia yg “normal” yg berhak disebut “baik” adalah apabila dia menggunakan haknya sama takaran dan persentasenya dg memberi hak orang lain.

Contoh, (a) apabila Anda bercerita sepanjang 5 menit, maka Anda berkewajiban memberi waktu yg sama untuk pendengar cerita Anda tsb. untuk bercerita balik dan Anda menjadi pendengarnya. (b) Apabila Anda menggunakan hak untuk meledek teman baik Anda, maka Anda juga harus memberi hak yg sama pada teman Anda untuk meledek balik. Apakah teman Anda mau menggunakan haknya atau tidak itu soal lain.

2. Standar minimal individu yg berjiwa pemimpin adalah apabila individu tsb lebih ingat pada apa yg mesti diberikan pada orang lain; bukan apa yg orang lain mesti berikan padanya. Memberi tidak dianggapnya sebagai pengorbanan atau aktivitas interaktif, tapi dianggapnya sebagai kewajiban satu arah baginya yg tak perlu menunggu balasan.

Memberi dalam bahasa hubungan interpersonal tentu saja bukan hanya dalam wujud materi, tapi yg terkadang justru lebih penting adalah memberikan ego . Dalam bahasa agama mungkin bisa disebut dg sedekah ego.

Apa itu sedekah ego? Anda tentunya lebih paham. Tapi untuk lebih memudahkan, saya beri beberapa contoh di bawah:

(a) Apabila Anda berbuat kebaikan pada seseorang, tapi tidak ada balasan dalam bentuk apapun dan bahkan, terkadang, mendapat respons negatif. Tapi Anda tidak mengeluh atau tidak membahasnya sama sekali.

(b) Apabila Anda tidak membalas sikap yg menyakitkan dari teman Anda (yg sedang ‘menggunakan haknya’ itu). Sebaliknya, Anda justru tetap bersikap baik seperti biasa.

(c) Apabila Anda terus berkonsentrasi untuk berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan manfaat bersama, tanpa menunggu apresiasi dari pihak manapun dan tanpa sepatah kata keluhan apalagi makian.

(d) Apabila Anda pejabat negara, maka Anda tidak hanya memaksimalkan amanah rakyat itu dg, antara lain, memudahkan urusan rakyat yg memerlukan layanan Anda semudah-mudahnya, lebih dari itu Anda memanfaatkan amanah tsb dg melakukan hal-hal di luar tugas yg dapat bermanfaat bagi rakyat dan negara. Tanpa peduli, apakah segala hal yg baik yg Anda lakukan mendapat apresiasi rakyat atau tidak. Pada waktu yg sama, memberi ruang di hati Anda untuk mendengarkan kritik dan saran dari rakyat, menurut saya adalah sedekah ego terbesar seorang pejabat.

Sulit untuk menjadi pemimpin ideal, atau bahkan sekedar jadi manusia ‘baik’. Tapi, berkeingingan menuju pencapaian yg lebih tinggi, tidak hanya bidang akademis & jabatan tapi juga karakter, saya kira bukan sesuatu yg salah.