Archive for Desember, 2005


Bung Karno dan SBY

Presiden Sukarno dalam biografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Gunung Agung, Jakarta, 1980), bertutur pada Cindy Adams, sang penulis biografi presiden pertama RI itu, bahwa keputusan untuk menjadi presiden seumur hidup adalah semata-mata kehendak DPR. Bukan kehendaknya. Alasannya, karena tidak ada satupun figur yg pantas menjadi penggantinya.

Bung Karno, yg akrab dipanggil BK, adalah pribadi dg berbagai predikat istimewa: negarawan ulung, founding father Indonesia, pemikir, filsuf, dan kehidupan masa mudanya yg aktif dalam gerakan pro kemerdekaan membuat dia juga dikenal sebagai seorang yg egaliter. Dialah inventor istilah Bung dan tradisi pake peci hitam yg
umumnya dipakai “kalangan wong cilik” dan sekarang menjadi mentradisi di kalangan pejabat dan para ustadz (soal ini silahkan merujuk ke biografi di atas).

Namun, kehidupan yg penuh pemujaan (baca: penjilatan) oleh orang-orang di sekitarnya membuat sosok sekaliber dia tidak tahan. BK tidak lagi konsisten dg prinsip-prinsip perjuangannya. Kebebasan pers diberangus, tokoh-tokoh yg tak dia sukai ditahan termasuk kalangan budayawan dan agama seperti Buya Hamka dan Mochtar Lubis.

Cerita singkat saya di atas hanya ingin mengingatkan bahwa bagaimanapun senangnya kita pada sosok seorang presiden (sebagai representasi dari kalangan eksekutif/pejabat/birokrat), pada kebijakannya atau pada kepribadiannya, kita tetap perlu bersikap kritis. Kritis tidak berarti selalu menyalahkan; ia juga bermakna apresiasi kalau memang ada yg perlu diapresiasi.

Yg jelas, mengkritisi dan mengapresiasi harus disesuaikan dg realitas dan apa adanya. Kritis, dalam konteks menyikapi kebijakan presiden, bermakna bahwa kita sudah betul-betul well-informed pada plus minus seluruh atau sebagaian besar kebijakannya. Tentunya dg banyak membaca informasi yg terkait. Sebab tanpa itu,
pujian/apresiasi atau kritikan kita; akan terkesan parsial at least or stupid at best. Dan kalau ini terjadi, yg menjadi korban adalah kredibilitas kita sendiri.

Di sisi lain, pemujaan yg membuta selain “kurang baik buat kesehatan rohani diri sendiri,” juga akan berdampak tak baik bagi yg dipuji. Kalau BK yg kredibilitas egalitarian dan demokratiknya yg tinggi saja dapat “terhanyut” dan lupa pada perjuangan awal gara-gara orang-orang sekitarnya termasuk rakyatnya yg tak kritis, bagaimana dg SBY yg tidak dikenal memiliki integritas seperti itu.

Memuji memang enak, tak ada resiko. Terkadang malah menguntungkan, terutama kalau yg “dipuji” (saya tak mau memakai istilah menjilat, istilah ini kurang elegan) adalah pejabat yg memang menikmatinya . Tapi, kalau sikap seperti ini tetap dibudayakan, saya kuatir akan masa depan demokrasi di negara kita. Tidak akan
ada lagi penghargaan pada perbedaan pendapat. Dan akhirnya, semua “mulut” yg bersuara berbeda akan ditutup, dan yg punya mulut pun akan masuk penjara. Persis seperti yg terjadi pada era BK.

To sum it up, bagi saya mengapresiasi SBY atau siapapun adalah dg memujinya kalau ada yg perlu dipuji, dan mengkritisinya kalau memang ada yg pantas dikritisi kebijakannya.***

Better Give, than Receive

Catch phrase yg jadi judul tulisan ini adalah kata-kata seorang penyiar CNN tadi malam ketika menyiarkan perihal perayaan Natal di berbagai belahan dunia, di mana, seperti halnya Idul Fitri, adalah hari yg dirayakan dg, antara lain, memberi berbagai hadiah. Pada lebaran Idul Fitri, istilahnya dikenal dg zakat fitrah.

Perlunya Kedermawanan
Agama-agama dunia selalu menekankan dan terkadang “memaksakan” pada para pemeluknya supaya banyak memberi dari pada menerima. Banyak faktor yg mendasari perintah dan anjuran agama pada pemeluknya agar bersikap dan berhati dermawan tsb. Saya ingin sedikit membahasnya dari sudut pandang hubungan sosial.

Pertama, dalam konteks hubungan sosial, orang yg paling dermawan biasanya orang yg paling populer di lingkungannya. Tak peduli apakah dia orang “jahat” atau baik. Kisah Robinhood, si maling budiman, misalnya menunjukkan bahwa seorang penjahat pun tetap akan dicintai lingkungan sekitarnya kalau dermawan. Olo, raja judi dan raja preman di Medan, juga dikenal dermawan. Dan karena itu, ia juga populer di kalangan
masyarakat Medan tidak hanya karena kepremanannya, tapi juga kedermawanannya yg suka ringan tangan membantu orang yg membutuhkan.

Dalam kebajikan sosial (social virtue) universal, kedermawanan menempati ranking tertinggi di antara kebajikan-kebajikan lain. Sebutan “Dia orang baik,” dalam perbincangan sehari-hari pasti maksudnya adalah “Dia dermawan.” atau “Dia tidak pelit.”

Betapapun khusyu ibadah ritual kita–rajin salat lima waktu bagi Muslim, atau rajin ke gereja tiap minggu bagi yg Kristen–tetap saja kita tidak akan dianggap sebagai “orang baik” oleh lingkungan sekitar kalau kita pelit. Sebaliknya, kerajinan ritual itu justru jadi bumerang, seperti yg sering kita dengar dalam sebuah obrolan gosip, “Doi rajin ibadahnya, sayang pelit yah.” Atau kata-kata lain yg maksudnya serupa.

Kedua, setiap agama selalu menganjurkan bahkan memaksa pemeluknya untuk derwaman karena, antara lain, manusia punya kecenderungan untuk pelit. Selfishness atau
kecintaan manusia pada diri sendiri itu manusiawi dan pada tahap tertentu menguntungkan dalam arti unsur ini mendorong seseorang ingin terus maju dan eksis serta selalu “menang” dalam kompetisi–salah satu unsur yg membuat peradaban manusia bergerak maju dan berkembang, berbeda dg binatang; tetapi apabila tak terkendali dan mencapai level ekstrim bisa berdampak negatif pada tatanan sosial sekitarnya. Korupsi yg luar biasa di negara kita, antara lain, disebabkan oleh adanya unsur selfishness yg tak terkendali di kalangan (kebanyakan) birokratnya.

Ketiga, kecenderungan untuk pelit atau dermawan pada dasarnya bersifat insting individual. Akan tetapi, apabila terus dikampanyekan dan situasinya dibikin
kondusif–seperti oleh kebijakan negara, maka ia bisa menjadi tren sebuah bangsa atau tren nasional. Contoh, di Barat, khususnya di Amerika ada tren di kalangan
orang kaya untuk berderma atau membuat yayasan sosial untuk membantu orang miskin, membiayai proyek penelitian penyakit/obat-obatan, dll seperti yayasan sosial milik BIll Gates, atau yayasan Alfred Nobel, yayasan beasiswa Ford Foundation, dll. Salah satu unsur kondusifnya adalah karena di Barat, khususnya di Amerika, yayasan sosial seperti ini tidak dikenai pajak.

Kedermawanan, dalam pemahaman saya, tentu saja tidak hanya terbatas pada “kesediaan memberi yg bersifat materi pada orang lain dg tanpa mengharapkan balasan”, tetapi juga kedermawanan dalam sikap, khususnya dari atasan ke bawahan: seorang diplomat yg dg suka rela menghadiri acara yg diadakan lokal staf atau mahasiswa (baca, rakyat), saya anggap sebagai sikap kedermawanan dalam bentuk lain. Kendati demikian, pemberian dalam bentuk materi merupakan kedermawanan “yg paling bisa dimengerti orang banyak.”

Bagaimana dg kalangan miskin yg ingin sekali memberi, tapi tidak memiliki materi yg bisa didermakan? Tetaplah dipelihara keinginan untuk memberi, karena itu akan membuat Anda (yg saat ini miskin) memiliki determinasi kuat untuk kaya agar memiliki sarana untuk memberi. Setidaknya, keinginan kuat untuk memberi akan membuat kita tidak jadi manusia dg mental yg selalu ingin meminta alias mental pengemis. Di samping itu, determinasi jadi pemberi ini akan mengasah jiwa kepedulian kita pada lingkungan sekitar semakin tajam hari demi hari. Seorang dermawan adalah orang yg
peduli pada keadaan sekitarnya.***

Tanggapan di milis internal ppi-india

Rini:

Salam jumpa lg Mario.
Masih ingat sayakn? Syukur deh kalo inget, jd enggak perlu susah2 kenalan lagi.

‘Better Give, than Receive’ sebuah prasa yang singkat tapi tentunya mengandung banyak nilai2 moral didlmnya, dan yang pasti Mario punya alasan tersendiri mengapa memilih topik ini.

Setelah membaca postingan abang ini, saya kembali teringat (dari dulu teringat terus,maaf ya) sebuah puisi indah karya Khalil Gibran “ON GIVING” dalam buku kumpulan puisinya “THE PROPHET”. Didlm puisi ini, Gibran menggambarkan pemberian itu sebagai bentuk manifestasi dr rasa ingin menolong sesama yg sedang menghadapi masalah dalam hidupnya. Melalui puisi ini, Gibran juga mengingatkan manusia untuk tdk lupa memberi dr apa yg ia punya, bukan hanya harta, karena tidak semua orang memerlukan bantuan dalam bentuk materi. Bisa jadi seseorang itu hanya memerlukan buah pikiran kita saja sebagai jalan keluar untuk masalah yg sedang ia hadapi. Betul enggak?

Tapi terkadang ada manusia yang takut kalau ia memberi dr hartanya,maka harta itu akan berkurang dan jatuh miskinlah ia. Mungkin ini adalah satu contoh mengapa ada sebagian orang yg sulit sekali memberi, walaupun ia mampu. Dalam hal ini, Gibran kembali memberi gambaran tentang rasa takut ini melalui sebuah perumpamaan, yaitu sebenar-benarnya harta,adalah harta yg telah kau berikan kepada orang lain. Mengapa Gibran mengatakan demikian? Ia pun melanjutkan (masih dalam puisinya) bahwa pada hakekatnya, apa yg telah kau berikan pada orang lain, katakanlah itu hartamu, maka harta itulah yg sebenarnya tidak pernah habis dan hilang darimu. Karena harta yg telah kau beri itu ibarat sebuah benih yg kelak akan tumbuh dan kembali memberi manfaat bagimu. Lagi pula, kekayaan Allah itu seperti mata air abadi yg tidak akan pernah kering, jd utk apa takut memberi. Bukan begitu Bang Mario?

Bagi si miskin yang belum bisa memberi, jangan bersedih karena tanpa adanya kita2 yang miskin ini, maka sang kaya tidak akan punya tempat untuk memberikan hartanya. Bayangin aja, apa jadinya kalau semua orang didunia ini kaya? Maka kita tidak bisa saling memberi dan menerima bukan? Itulah dualisme kehidupan yang sudah ada sejak dulu, kalau ada yg kaya, pasti ada yg miskin, ada yg memberi pasti ada yg menerima. Akurkan.

Walaupun ‘giving is beter than receiving’, kita jangan pernah merasa malu utk menerima bantuan, apalagi bila kita memang memerlukannya. Mungkin saaat ini kita baru bisa menjadi orang yg menerima, siapa tau nanti kita bisa menjadi orang yang memberi,karena pada dasarnya menjadi penerima itu tidak salah. Tidak perlu gengsi dan malu utk menerima kalau kita memang membutuhkannya. Hanya saja, agar bantuan yang kita terima tidak sia2 maka kita harus menggunakannya dengan arif dan bijaksana,sesuai dengan kebutuhan kita, jangan meminta yg berlebihan, sehingga kita terhindar dari sifat2 yg tak tau terima kasih. Itu sama saja dengan istilah orang dulu ‘belanda minta tanah, udah dikasih tanah malah minta surat tanahnya’ (mau dijual kali). Dan jangan pernah mengungkit-ungkit pemberian itu,sehingga bisa mengurangi kadar dari kemurnian niat sang pemberi.

Itu aja deh, karena taunya baru segitu, maafin ya kalau ada salah2 kata. Horas bah!!!!

Sebelum lupa, saya pribadi juga mau ngucapin “Selamat Natal” buat yang merayakannya ‘n “Selamat Tahun Baru” utk kita semua.Mari jadikan tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Akurkan?

“Kalau ada sumur disawah, mari kita sama2 nyirami padi.”
(enggak nyambung ya)

Tanggapan balik MG:

saya kurang sepakat dg istilah *kita yg miskin*. bagi saya ini ungkapan self-pity.

semua mahasiswa di india ini kaya, to some level. kalau tidak, (a) bagaimana anda naik pesawat dari rumah sampai ke india? bukankah itu memerlukan duit? (b)bukankah kita terkadang juga memberi pada para pengemis India di jalan-jalan? bukankah itu tanda bahwa kita kaya? dan tidakkah ini tanda bahwa para pengemis jalanan di india itu *kalah kaya* dibanding kita?

pada dasarnya kalau *nurutin nafsu* kita semua yg di india akan selalu merasa miskin, karena selalu membandingkan apa yg kita punya dg orang yg level kayanya di atas kita:

mahasiswa non-iccr merasa miskin dibanding mahasiswa yg dapat iccr; mahasiswa iccr merasa miskin dibanding dg staf lokal kbri; staf lokal kbri merasa miskin dibanding para diplomat/dubes dan para diplomat inipun merasa miskin karena membandingkan penghasilannya dg para pengusaha kayak Liem Sio Liong, Surya Paloh, dll. Pengusaha ini pun merasa miskin krn membandingkan dg Bill Gates!!

Akhirnya, tidak ada yg merasa kaya. Dan semuanya merasa perlu untuk menerima *hadiah*… :)

Kenyataannya adalah, KITA SEMUA KAYA. dan karena itu kita masih punya kesempatan untuk memberi pada kalangan yg levelnya di bawah kita.

pada saat yg sama, kita juga tetap berusaha meningkatkan *taraf kekayaan* kita pada level berikutnya, supaya kita dapat memberi pada lebih banyak orang dan kalangan. kata ustadz muda mushalla KBRI NEW DELHI, Tasar Karimuddin, *manusia terbaik adalah yg paling banyak membawa manfaat pada yg lain*.

Dari Fachim Harharah:

How come “receiving is also giving”??? Hehehehe…..

This is the thing that we unable feel it but it is true. Like what
prophet said “the above hand (giving) better than the below hand
(receiving)”.

What I feel is, whenever I give to someone I will surely receive
from another, even more than I gave. It’s unbelievable.

Sometime our thinking will guide us to receive more and more, since
it easy to just receive, nothin lost. And in long term, you wont
aware it, you’ll feel greedy to receive and receive… and It will
decrease your power, your spirit and willingness in life.

But, If we are giving, we’ll feel in esteem and satisfied. As much
as you giving as much as you eager to do, and make you behave and to
be the necessary person at other. So, you will bravely believing
that God will never let you to be poor person as long as you keep
strugling to help other, and He will ALWAYS support you.

People think that giving and receiving in term of material. Frankly
speaking, giving some information, advise, attention and motivation
is better than that. I feel that some motivational speech, is more
usefull than some material that I can get it by myself.

We have to be RICH, to be RICH person we have to give (spending) our
time and anything that we have to learn and make necessary thing by
the best way. It doesnt matter you’re student, diplomat, businessman
etc.

I’m sure, what about about guys?
regards,
fachim

Dari Aila El Edroos

quoting fachim:
‘How come “receiving is also giving”??? Hehehehe…..’
1. when i receive, i give others the opportunity to give
2. when i don’t receive, i stop the circle of giving
3. there are two intentions: giving and taking
4. the acts of giving are giving and receiving
5. the acts of taking are ‘fake giving’ and taking
6. we give and receive because we feel enough
7. we take because we don’t feel enough
8. giving and receiving need each other, but taking comes solo
9. receiving has nothing to do with greed for the intention is positive, that is to give and to feel the love and care from others which one deserves. however taking has to do with greed and selfishness

However, it’s merely my opinion and I undoubtedly bow to the words of the Prophet.

From a Rich Me to My Rich Friends :D
Aila

Artikel terkait:

- Hutang RI dan Hidup Sederhana

- Hidup Sederhana sebagai Pilihan

- Berderma dan Baca Buku

Post-Summary – Abstraksi Posting di Blogspot (5)

Cara membuat ringkasan/abstraksi posting atau READ MORE di blogspot / blogger

Bagi Anda yg sudah membuat blog dan sudah memposting sejumlah entry, mungkin terpikir oleh Anda bahwa postingan Anda terlalu panjang sehingga tak menarik dilihat pengunjung. Apabila ada niat untuk menyingkat posting yg ada di halaman muka supaya lebih menarik dan lebih “catchy” dan judul-judul lain pun jadi lebih visible di mata pengunjung sehingga mereka lebih “betah” lagi nongkrong di blog Anda. Sistem ini
disebut post-summary. Maka, ikuti petunjuk step by step berikut:

(1) Setelah log-in di blogger.com, klik judul blog Anda. Setelah itu, klik SETTING, terus klik ARCHIVING. Di situ ada menu ENABLE POST PAGES? –> klik YES. Jangan lupa klik SAVE CHANGES dan REPUBLISH YOUR BLOG.
(2) Klik lagi SETTINGS, terus klik FORMATTING. Di paling bawah ada kotak kosong di samping menu POST TEMPLATE. Isi kotak kosong tsb dg kode berikut:


<span class="fullpost">
</span>
Jangan lupa klik SAVE SETTINGS dan REPUBLISH.

(3) Klik menu TEMPLATE. Di bagian paling atas terdapat kode-kode HTML yg diawali dg <style> </style>

Taruh kode berikut persis di atasnya kode </style>

<MainOrArchivePage>
   span.fullpost {display:none;}
</MainOrArchivePage>

<ItemPage>
   span.fullpost {display:inline;}
</ItemPage>

(4) Setelah itu, pasang kode berikut:

<MainOrArchivePage><br />
   <a href="<$BlogItemPermalinkURL$>" mce_href="<$BlogItemPermalinkURL$>">Read more!</a>
</MainOrArchivePage>

Letakkan kode di atas ini persis setelah kode berikut:

Untuk mengurangi kebingungan Anda, kode:

<$BlogItemBody>

letaknya berada di bawah kode ini:

</blogitemtitle>
<div class="post-body">
<div>

(5) Klik SAVE SETTINGS dan apabila sudah ok, klik REPUBLISH. (Jangan klik REPUBLISH, sebelum SAVE SETTINGS-nya selesai secara sempurna).

(6) Selesai.

CARA MEMPOSTING

Ketika memposting, klik EDIT HTML. Maka, secara otomatis akan tampak kode
<span class="fullpost"></span>
Letakkan posting yg akan ditampilkan di halaman muka di atas kode sementara sisanya (yakni keseluruhan entry), letakkan di antara kode
<span class="fullpost"> dan </span>.

Selamat mencoba dan selamat menikmati tampilan menarik blog Anda.

Pasang link http://afsyuhud.blogspot.com di sidebar blog Anda, Anda akan mendapat link balik (linkback) di blog populernya yg masuk peringkat TOP TEN blog Indonesia terbaik versi Majalah Tempo.

Artikel terkait seri tips, kiat dan cara membuat dan promosi blog:

1. Membuat Blog
2. Cara Praktis Promosi Blog (1)
3. Cara Praktis Promosi Blog (2)
4. Beasiswa Google Adsense
5. Kiat Membuat Abstraksi atau Read More! di Blogspot
6. Menu Arsip Pull-Down / tarik ulur
7. Permasalahan Posting Abstraksi atau Read More!
8. Pasang Foto di Profile Blogspot
9. Memaksimalkan Kerja Blogger atau Blogspot
10. Membuat Link di Posting & Window Baru
11. Aksesoris Blog
12. Apa itu Feed, RSS dan XML?
13. Technorati: Direktori blog, Tag & Bookmark Online
14. Promosi Blog: Google Sitemap
15. Mengapa Juwono Sudarsono nge-Blog
16. Cara Daftar Google AdSense
17. Google AdSense Referral
18. Aggregator Blog Indonesia
19. Membuat Link di Sidebar
20. Membuat Menu Pull-Down

Tips Cepat Maju dan Progresif

Sebagai anak dari keluarga miskin, saya kuliah S1 di Indonesia sambil cari tambahan sana sini untuk memenuhi sejumlah kebutuhan primer seperti langganan koran, membeli buku, rokok, apel (Inggris, apple), dll. Kerja sambilan itu cukup bervariasi, dari menyuplai kain batik Madura ke toko-toko, mengirim tulisan ke
berbagai media (tapi jarang dimuat), jadi nara sumber seminar sampai memberi les privat bahasa Inggris dan bahasa Arab pada siswa SMA atau Aliyah.

Salah satu murid privat bahasa Arab saya bernama Aguk Irawan. Anaknya lugu, terkesan agak telmi dan suka jadi bahan ledekan teman-teman lain. Jelasnya, dia tidak termasuk dari tiga murid favorit saya. Dua tahun kemudian saya berangkat ke India dan tidak lagi mendengar kabar Aguk, sampai secara tak sengaja empat tahun kemudian saya bertemu Aguk di Saudi Arabia sama-sama ikut temus.
Rupanya setamat Aliyah, Aguk meneruskan studinya ke Universitas Al Azhar, Mesir, mengambil jurusan filsafat dan kemudian pindah ke sastra Arab. Saat ini, Aguk yg lugu itu sudah menerbitkan tiga buku ontologi puisi yg diterbitkan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Filsafat) Yogyakarta, lembaga think thank yg berafiliasi ke NU, di mana ia juga menjadi aktivis. Di samping itu, ia rajin menulis kajian dan resensi
sastra di berbagai media ibukota dan daerah. Apa yg membuat Aguk yg lugu, pemalas dan telmi itu menjadi sosok energik, progresif dan potensial?

Dalam setiap acara senggang di Saudi waktu itu, saya sempatkan untuk selalu mengajak dia ngobrol apa saja, termasuk obrolan dari hati ke hati. Selain karena kangen, saya juga penasaran akan perubahannya yg sangat dramatik. Ada sesuatu yg “aneh” dalam dirinya: bicaranya yg berisi; humornya yg segar; retorika puitisnya yg sering mengalir begitu saja di tengah perbincangan; dan sikap independensinya dan wawasannya yg luas dalam memberi komentar atas suatu fenomena mutakhir atau figur tertentu. Tanda bahwa ia tidak hanya rajin BACA BUKU, tapi juga banyak mengasah otaknya untuk berfikir.

Dari rangkaian perbincangan selama temus itu, ada langkah-langkah sederhana–dan dg mudah dapat kita tiru–yg dia jalani secara sungguh-sungguh yg membuatnya maju seperti sekarang, sebagai berikut:

(1) Teman dan “lawan” adalah guru.
Setiap orang memiliki kelebihan, di samping
kekurangan. Aguk tak segan-segan menimba ilmu pada siapapun di sekitarnya–secara langsung atau tidak langsung–, pada teman-temannya yg berusia jauh lebih muda; termasuk pada figur yg tidak dia sukai sekalipun.

Konsep ini tampak mudah dikatakan, tapi sulit dilakukan. Terutama bagi mereka yg meletakkan ego “kebesarannya” berdekatan dg otaknya. Dg kata lain, untuk menjalani konsep ini, diperlukan sikap rendah hati (bukan rendah diri) yg solid. Pindahkan posisi ego ke perut atau ke dengkul, jangan di kepala. Supaya otak di kepala kita dapat berpikir jernih dalam melihat segala hal yg positif maupun negatif pada
orang lain: kita ambil positifnya, dan buang negatifnya–dalam arti tidak perlu dibahas dan jadi bahan “serangan rudal balasan”.

Sikap rendah hati yg solid ditandai dg: (a) Tidak marah, bahkan senang, ketika dikritik oleh siapapun terutama dari bawahan; (b) selalu rela hati meneladani dan mengagumi sikap orang lain yg lebih baik tanpa memandang status jabatan atau sosial. Dg kata lain, tidak gengsi-an atau ke-GR-an. Orang yg gengsi-an atau ke-GR-an mungkin juga akan mencapai kemajuan, tapi lambat; (c) tidak berkilah atas kesalahan, kekalahan atau kelemahan diri. Salahkan diri sendiri. Jangan salahkan tim penilai ujian, kalau nilai kita anjlok. Jangan permisif ketika orang lain lebih hebat dari kita. Sikap excuse atau berkilah hanya akan menutup energi potensi maju dalam diri kita sendiri.

Jangan salah, sikap rendah hati di sini tidak ada hubungannya dg tampilan luar. Orang yg selalu menunduk, berkata lemah lembut dan selalu tersenyum tidak otomatis berarti rendah hati. Begitu juga, orang yg terkesan kasar sikap atau tutur katanya tidak berarti sombong. Walau umumnya seperti itu.

(2) Mengetahui Arah Tujuan dan Kelemahan Diri
Untuk maju, langkah pertama adalah tahu apa saja yg perlu dilakukan supaya maju menurut standar nasional atau internasional dan apakah kemampuan yg ada pada kita sudah mencukupi. Orang tidak akan bisa membuat rumah bagus, kalau tidak tahu apa saja yg diperlukan untuk membuatnya dan menyiapkan hal-hal yg diperlukan.

(3) Target Maksimum dan Minimum
Harus ada target maksimum dan target minimum yg jelas dan sesuai dg standar nasional atau, kalau mungkin internasional. Bukan target lokal.

Sebagai contoh, target seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Target minimum: mendapat nilai first division (supaya mudah jadi dosen). Target maksimum: (a) Menulis buku; (b) Menulis puisi dan karya sastra lain dikirim dan dimuat di media dan nantinyadibukukan; (c) Kemampuan berbicara/menterjemah/menulis aktif dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia; (d)Menjadi se-populer dan seproduktif dan se-kritis Noam Chomsky, dst. Begitu juga buat mahasiswa sastra Arab, Ilmu politik, hukum, dll.

Tanpa memiliki target minimum/maksimum seperti di atas, kita akan kejangkitan penyakit kebanggaan semu dan norak: dapat first division atau bahkan second division saja bangga (memang perlu disyukuri, daripada tidak lulus), sementara masih banyak hal yg belum tercapai dari ukuran standar umum universal.

Demikian beberapa poin interpretasi dari hasil bincang-bincang saya dg Aguk Irawan, yg saya lihat sangat berhasil merubah karakter dirinya secara total dari pribadi lembek yg tak tahu apa yg harus dia kerjakan selain hanya mengejar nilai ujian menjadi sosok pribadi yg penuh vitalitas dan produktif berkarya sesuai potensi maksimum dirinya.

Empat tahun masa perpisahan saya dengannya. Dalam masa singkat itu, dia telah berbuat dan mencapai sesuatu yg jauh dari apa yg saya capai. Saya malu, tapi juga bahagia.

Perasaan yg sama, malu tapi bahagia, ingin kembali saya rasakan empat tahun lagi, saat saya ketemu mahasiswa India di sebuah acara jumpa alumni, di mana sayalah orang yg paling kecil pencapaiannya dibanding dg rekan-rekan semua yg dalam empat tahun ke depan telah mencapai target maksimum universal. Saat itu, kembali saya akan merasa malu, tapi juga bahagia melihat mahasiswa India yg berhasil secara akademis, banyak berkarya, enerjik, penuh vitalitas dan mendominasi di berbagai sektor kehidupan di Tanah Air. Semoga.***

Tanggapan dari Rini Ekayati, Mahasiswi S2 Linguistics, Delhi University

Salam kenal bung Mario.
Saya anak Medan (sebenarnya suku jawa, hanya lahirnya aja kebetulan di Medan)yang baru gabung di India ini, mencoba belajar dan ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, insya allah.

Membaca tulisan abang hari ini saya jadi teringat diri saya sendiri. Selama ini ternyata saya masih belum pernah berbuat apa2 untuk masa depan saya, bahkan setelah saya sampai ke India ini. Dulu saya juga harus bekerja keras hanya untuk menamatkan kuliah saya sampai s1. Apa yang pernah abang lakukan juga pernah saya lakukan. Saya pernah jualan rokok ‘ketengan’ (kata orang Medan), bahkan jualan kue dari kios ke kios, menjadi guru les, etc. dan bahkan saya harus menunggu giliran saya kuliah dan nganggur selama 1 thn karena orang tua saya tkd punya ckp biaya untk menguliahkan saya sekaligus adk lelaki saya. Kenapa saya akhirnya bisa kuliah juga karena adk saya memutuskan tdk ingin kuliah setelah ia tamat SMA, ia lebih memilih mencari pekerjaan, ingin bantu orangtua katanya. Maka beruntunglah saya. Ke India juga karena beasiswa ICCR, kalau tdk mana mungkin.

Kisah teman bung itu menyadarkan saya bahwa kita tidak perlu merasa terpojok dan tertekan saat ada segelintir orang disekitar kita yang meremehkan atau bahkan merendahkan diri kita karena mungkin kita terlihat tidak memiliki kemampuan apa2. Ada baiknya itu semua kita ambil dan saring untuk mendapatkan sari pati yang nantinya mungkin bisa bermanfaat bagi kita.

Menjadikan kawan dan lawan sebagai guru juga menurut saya adalah langkah yang arif dan bijaksana yang bisa menghindarkan kita dari rasa rendah diri dan tidak yakin pada kemampuan diri. Hal ini dapat pula menyebabkan kita kehilangan arah dan tujuan sebagai target hidup yang ingin kita daptkan.

Akhirnya, terima kasih saya ucapkan untuk bung Mario atas sumbang cerita dan tipsnya yang pasti dan mungkin bisa membantu saya untuk menjadi ‘orang’ yang lebih baik lagi, untuk saya pribadi khususnya dan untuk orang lain. Saya masih menungu nih tips berikutnya. Horas bah!!!!!

Wassalam,
Rini

Respons MG

anda harus bersyukur memiliki determinasi kuat untuk study. studi tidak hanya untuk memperbaiki taraf hidup secara materi, tapi juga peningkatan karakter. ini yg perlu diingat. apabila tujuan studi hanya untuk perbaikan materi, maka yg terjadi adalah gelar tinggi, tapi karakter tetap seperti layaknya anak “yg tidak pernah makan bangku SD”. :)

Saya juga beruntung bisa ke India. tapi, tampaknya Anda lebih beruntung krn. ke sini dg beasiswa ICCR, saya tidak. :) Kalau saya bersyukur satu kali, maka at least Anda mesti bersyukur dua kali. setiap hari. banyak waktu untk bersyukur membuat kita tak punya waktu untuk mengeluh…

well, bangsa kita adalah bangsa yg masih muda. baru bebas dari penjajah. negara miskin (yg kaya hanya yg berani jadi maling). pendidikan rata2 rakyat rendah.

ciri tipikal kepribadian sebuah bangsa terbelakang spt kita adalah: (1) penyembah kemewahan kalau kesempatan datang; (2)pengagum orang2 yg tampak mewah secara materi dan tampilan luarnya.

Konsekuensi baliknya: mereka akan merendahkan siapa saja yg tidak sesuai dg dua poin di atas. (1) akan hidup mewah dan boros dan meraup apa saja yg ada di depannya bila peluang itu tiba (halal haram hanyalah wacana lelucon); (2) at least merendahkan dalam hati, “at best” merendahkan/menghina dg kata2 atau sikap apabila mereka melihat “kalangan gembel” ini lewat di depan mereka atau terlintas di benak mereka.

Kita perlu tahu fenomena ini, supaya kita juga tidak ikut terjerumus dalam sikap dan pola pikir semacam itu. history will always repeat itself if it’s never learnt

menangkap dan memahami suatu kebenaran itu sangat mudah bagi seseorang, dan sangat sulit bagi orang lain yg suka menaruh otak di dengkul dan ego di kepala. saya kira, yg terpenting menuju ke arah ini adalah ‘place your brain in your head, and put your ego in the closet’. not the other way round. gengsi, benci, dengki hanya akan menambah derita hati: tak bisa tidur ketika “lawan” senang, tak enak makan ketika “lawan” menang. :)

Tips mem-Filter GMAIL supaya tidak masuk Inbox

Tempo hari rekan2 pada menyesalkan layanan google email/GMAIL yg walaupun berkapasitas terbesar (2,5 GB) tapi gak bisa difilter/diarahkan ke folder khusus. Walaupun bisa,tapi tetap nongol juga di inbox yg membuat isi inbox jadi campur aduk antara email dari berbagai milis dg email pribadi.

Setelah saya cek secara teliti dan seksama, ternyata ada. Caranya begini.

(1) Buat dulu foldernya. Folder dalam istilah gmail adalah LABEL. Caranya: klik Settings –> Labels –> tulis nama labels/folder di kotak yg tersedia, contoh:
PPI India –>klik CREATE.

(2) Setelah itu, klik FILTERS –> CREATE A NEW FILTER. Di situ akan terbuka banyak box. Isi kotak SUBJECT dg [ppi-india], ini apabila Anda hendak memfilter milis
ppi internal ke folder khusus.

(3) Setelah itu, klik NEXT STEP. Di sini beri tanda chek/tik pada kotak SKIP THE INBOX dan APPLY THE LABEL. Jangan lupa di menu APPLY THE LABEL, drop-down “choose the label” dan pilih folder/label yg anda inginkan. Contoh, pilih label PPI India.

(4) Create Filter. Selesai.
Seterusnya, setiap email dari milis ppi-india (internal) akan masuk hanya ke folder/label PPI India, dan tidak masuk ke inbox.