Archive for September, 2005


Bias Makna Fundamentalisme

Harian Pelita, 23 September 2005

Bias Makna Fundamentalisme
Oleh A Fatih Syuhud

Secara historik, istilah “fundamentalisme” diatribusikan pada sekte Protestan yang menganggap Injil bersifat absolut dan sempurna dalam arti literal dan, dengan demikiran, mempertanyakan satu kata yang ada dalam Injil dianggap dosa besar dan tak terampuni. Dalam konteks ini, Kamus Oxford mendefinisikan fundamentalisme sebagai “pemeliharaan secara ketat atas kepercayaan agama tradisional seperti kesempurnaan Injil dan penerimaan literal ajaran yang terkandung di dalamnya sebagai fundamental dalam pandangan Kristen Protestan”. Julukan ini, walaupun dimaksudkan untuk menggarisbawahi ketaatan absolut kaum Protestan atas ajaran Injil, tidaklah dipakai untuk melecehkan.

Konsep asal fundamentalisme itu sekarang menjadi bagian masa lalu. Selama lebih dari dua setengah dekade, interpretasi baru dari istilah ini menjadi populer. Fundamentalisme menjadi sinonim dengan ekstremisme dan radikalisme yang berakar dari intoleransi agama. Persepsi ini jelas tidak tepat dan menyesatkan karena fundamentalisme tidak dapat disejajarkan dengan esktrimisme dan radikalisme. Yang pertama bermakna ketaatan penuh pada ajaran-ajaran dasar agama yang dilakukan oleh para penganut taat suatu agama, sebaliknya makna kedua ditolak oleh seluruh penganut agama yang benar.
Interpretasi fundamentalisme menjadi kontroversial karena ia jarang dipakai secara imparsial, objektif dan rasional. Aplikasi makna fundamentalisme esensinya
berdasarkan pada apa yang dipahami dan dinyatakan oleh beberapa kelompok tingkat tinggi dari kalangan politisi, akademisi dan media. Di tengah terjadinya
Islamofobia dan histeria antimuslim yang terjadi di sejumlah negara Barat, khususnya di AS, Israel dan Inggris, saat ini istilah fundamentalisme digunakan secara subjektif, selektif dan bias untuk melecehkan dan menjatuhkan Islam dan menggambarkannya sebagai ancaman pada peradaban Barat.

Propaganda anti-Islam “fundamentalis” dan “militan” semakin meningkat sejak revolusi Iran pada 1979. Sejumlah pemimpin Barat dan akademisi serta kelompok media berpengaruh dengan penuh semangat berpartisipasi dalam usaha ini. Seperti yang dikatakan Presiden AS Richard Nixon, “Fundamentalisme Islam telah mengganti komunisme sebagai instrumen pokok perubahan dengan cara kekerasan.”

Nixon juga mengatakan, “Ideologi komunis menjanjikan modernisasi cepat, sedangkan ideologi revolusi Islam adalah reaksi atas modernisasi. Komunisme berjanji untuk mempercepat putaran jam sejarah ke depan, sedang Islam fundamentalis hendak membalik sejarah ke masa lalu”. Implikasi implisit ucapan Nixon ini adalah bahwa “fundamentalisme Islam” memiliki potensi sebagai ancaman lebih besar daripada komunisme.Dalam buku “Satanic Verses”, Salman Rushdie berpendapat bahwa “Islam”-lah yang bertanggung jawab dalam “mempromosikan kebencian pada peradaban modern”.

Samuel P Huntington, dalam “The Clash of Civilisation”, mengingatkan dunia Barat atas berbagai ancaman yang berasal dari Islam. Dalam “Todays New Fascists”, Francis Fukuyama mengungkapkan kekuatirannya atas bangkitnya “Islam-Fasis” baru.
Ungkapan Fukuyama ini merupakan kelanjutan dari kekuatirannya atas munculnya “Islam radikal” yang dibahas mendetail dalam bukunya “The End of History and the Last Man”. Namun demikian, tidak ada yang dapat menandingi V S Naipaul, pemenang Nobel, dalam menyerang Islam. Hal ini dapat dilihat dari kata-kata sarkasmenya, seperti “Terlukanya peradaban India merupakan hasil kerja Islam” (dalam bukunya A Wounded Civilization), “Muslim non-Arab adalah pemeluk tidak otentik..” (dalam Among the Believers), dan “Islam itu menjijikkan” (dalam Beyond Belief)

Berbagai macam penghinaan terhadap Islam, baik dengan kekerasan maupun nonkekerasan, mencapai proporsi yang mengkhawatirkan pasca-serangan teroris pada gedung WTC dan Pentagon pada 11 September 2001. Berbagai usaha direkayasa untuk menghubungkan Islam dengan terorisme telah menyulut ketegangan komunal di sejumlah negara Barat, khususnya AS. Banyak yang dilecehkan dan diperlakukan tidak manusiawi hanya karena memakai nama Muslim dan memelihara jenggot dan mengenakan jilbab. Di atas semua itu, invasi pimpinan AS ke Afghanistan dan Irak plus peningkatan serangan Israel pada rakyat Palestina semakin mempersulit masalah dan semakin menjauhkan diri dari skenario kerukunan global antaragama.

Banyak kalangan yang anti “fundamentalisme Islam” di satu sisi mengklaim dirinya komitmen pada demokrasi. Akan tetapi, pada waktu yang sama mereka tidak
segan-segan menyerukan untuk melakukan segala cara dalam memberantas fenomena “Islam fundamentalis”, termasuk dalam hal ini, dengan cara kekerasan yang
jelas-jelas tidak demokratik. Ann Coulter, umpamanya, menyerukan: “Kita hendaknya menginvasi negara-negara mereka (Muslim), membunuh pemimpin mereka dan
mengkonversi mereka dalam pelukan Kristiani”; Rich Lowry menyerukan AS supaya “mengebom Mekkah”. Senada dengan seruan kedua kolumnis konservatif AS ini,
berbagai tulisan Salman Rushdi yang menentang Islam, Nabi Muhammad dan umat Islam dipandang sebagai bentuk kebebasan berekspresi, tetapi berbagai kritikan pada
buku kontroversialnya “Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan) dianggap sebagai manifestasi dari fanatisisme. Tidakkah wajar dan logis kalau kita anggap bahwa sikap semacam itu sebagai contoh konkrit standar ganda dan hipokrisi?

Harus diakui, kelompok radikal dan militan di antara pemeluk Islam itu ada. Dalam tubuh agama lain juga terdapat elemen-elemen ekstrim semacam itu. Akan tetapi, secara faktual mereka, kalangan ekstrimis di berbagai agama ini, adalah bagian kecil dari populasi dunia dan secara bulat ditolak keberadaannya oleh bangsa-bangsa pecinta damai dan penegak keadilan, termasuk oleh negara-negara Islam.

Seluruh negara-negara dunia, dengan pengecualian Afghanistan di bawah rezim Taliban, mengecam serangan teroris 11/9/01 di Amerika dan 7/7/05 di London. Bahkan Abdullah Awad, kakak kandung Osamah bin Laden, mengecam serangan itu sebagai “pelanggaran mendasar pada prinsip-prinsip utama Islam.” Apalagi, sejak itu seluruh negara Muslim meningkatkan usaha mereka untuk memerangi dan mencegah terorisme. Dengan adanya fakta-fakta tak terbantahkan ini, apakah menghubungkan Islam dengan fundamentalisme dan terorisme masih relevan?

Sayangnya, istilah fundamentalisme dan terorisme secara eksklusif selalu diidentikkan dengan Islam tanpa memandang realitas di lapangan. Apakah ini berarti bahwa tidak ada individu atau kelompok dalam agama Kristen, Yahudi, Hindu dan non-Muslim lain yang
lebih berhak menyandang “gelar” itu? Tidakkah menghakimi Islam dengan hanya berdasarkan kebijakan opresif Taliban di Afghanistan dan tindakan brutal Al Qaidah itu bagaikan menghakimi Kristen dengan aksi barbar Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini di Italia dan Slobodan Milosovic di Bosnia?

Karena tindakan ekstrimisme yang dilakukan Ariel Sharon tidak membuat umat Yahudi disebut sebagai “Zionis fundamentalis “, maka sudah logis kiranya kalau tindakan radikal Mullah Umar dan Usamah bin Ladin tidak menjadikan 1.3 milyar Muslim sebagai “Islam fundamentalis”. Begitu juga, apabila jaringan radikal Islam semacam Al Qaidah atau kelompok pemberontak di Filipina seperti Abu Sayyaf disebut sebagai “teroris Islam”, maka julukan yang sama hendaknya dilekatkan pada tindakan terorisme yang dilakukan oleh Timothy McVeigh di Amerika dan kultus Aum Shimrikoy di Jepang.

Di era sekarang di mana dunia dipenuhi dengan berbagai problem dan konflik ini, sangat dibutuhkan adanya berbagai usaha maksimum untuk mempromosikan perdamaian
dan keamanan. Namun demikian, hal ini akan tetap menjadi mimpi sampai perpecahan agama dapat dijembatani dan harmoni antaragama terbentuk. Menyudutkan satu agama tidak akan membuat bertambahnya prestise dan keamanan agama lain. Begitu juga,
fenomena patologis seperti fanatisme, kebencian, irasionalitas, ketakutan yang berakar dari ketidakpedulian dan pikiran picik, hanya akan memperlebar polarisasi agama.

Idealnya, isu sulit seperti ekstremisme dan terorisme hendaknya didekati dengan pikiran terbuka dan tanpa bias agama. Diperlukan juga memperhatikan akar penyebab, bukan hanya gejala dari fenomena tersebut. Karena, tidak ada negara atau sekelompok negara, bagaimanapun kuatnya, dapat memerangi dan menyelesaikan tantangan ini secara efektif sendirian. Dengan demikian, tidak ada alternatif dalam mengatasi hal ini kecuali dengan kerja sama global.[]

* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India

Beyond the Marksheet

Oleh Mario Gagho

Sdr. Saifuddin Syukur–yg baru mendapatkan gelar Ph.D
jurusan hukum pada 23 Juli 2005– pada seminar sehari
MTA PPI India (26/7/05) mengingatkan mahasiswa India,
bahwa “mahasiswa di India akan bisa maju hanya apabila
memiliki target beyond the marksheet.”

Dengan kata lain, aktivitas bacaan dan pembelajaran
tidak hanya terfokus pada buku-buku yg berkaitan dg
apa yg dipelajari di bangku kuliah. Betul, memiliki
marksheet (nilai rapor) yg tinggi merupakan target
utama. Kelancaran dan akseleritas kerampungan studi
adalah harapan awal. Namun, adalah kesalahan besar
apabila marksheet tinggi menjadi satu-satunya tujuan
kuliah. Ini berbeda dg saat kita di bangku sekolah
(SD, SMP, SMA), di mana nilai tinggi menjadi
satu-satunya target pencapaian.

***

Tidak sedikit rekan mahasiswa yg belajar di India
kurang menyadari bahwa ketika kita diterima di bangku
kuliah dan bergelar mahasiswa, ada tuntutan baru dari
masyarakat selain hanya sebagai pengejar marksheet.
Tuntutan itu berupa sikap keintelektualan dan
kecendikiawanan yg salah satu cirinya memiliki
perhatian, kepedulian dan pemikiran bagi kemajuan
bangsa serta responsif atas berbagai fenomena
(kemajuan atau kepincangan) sosial yg terjadi.

Untuk menuju ke arah ini, syarat utama adalah
perubahan dan transformasi pola pikir: dari pola pikir
(mindset) sebagai “anak sekolahan” menuju pola pikir
seorang “mahasiswa”. Dari mindset yg biasa menjadikan
marksheet sebagai barometer utama dan satu-satunya
dalam mengukur pintar dan bodohnya seseorang, menuju
level yg selangkah lebih tinggi: menjadikan marksheet
dan kecakapan merespons realitas fenomena sosial
sebagai dua hal yg tak terpisahkan.

Umumnya, masyarakat menilai mahasiswa bukan dari
berapa persentase atau IPK (Indeks Prestasi Kumulatif)
yg dicapai, tapi dari seberapa responsif dia dalam
menanggapi suatu realitas sosial. Dalam pergaulan
sehari-hari, justru hal ini yg lebih penting. Nilai
tinggi tentu saja perlu, terutama dalam mencari kerja
yg juga tak kalah pentingnya. Untuk itu diperlukan
keseimbangan.

Dg kata lain, even the highest marksheet earner and
the gold medal awardee masih dianggap kurang “karakter
mahasiswa”-nya apabila dia tidak tahu event-event
uptodate yg sedang terjadi di komunitasnya, di
negaranya dan di belahan dunia lain. Apalagi, kalau
marksheet tidak tinggi; informasi selalu ketinggalan
kereta. Entah masuk kelompok mana status “mahasiswa”
kategori terakhir ini.[]

Benturan Peradaban dan Kontra Terorisme

WASPADA Online 21 Apr 04

Oleh A Fatih Syuhud *

Apabila dunia tidak sedang melaju menuju benturan peradaban (clash of civilizations), maka sedikitnya telah terjadi pengkaburan distingsi antara gereja dan negara di AS dan mendorong umat Islam untuk mempercayai keunggulan Yahudi Israel di dunia, yang sangat merugikan Islam.

Ada dua fenomena yang mengarah pada asumsi di atas yang terwakili oleh jenderal bintang tiga AS Letjen William G. Boykin dan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Letjen William G. Boykin, seorang pejabat penting di departemen pertahanan AS, mendapat restu untuk memproklamirkan, sering dalam seragam militer, di sejumlah gereja Kristen bahwa musuh riil AS bukanlah Osama bin Laden tetapi Setan.

Baru-baru ini, ia mencontohkan keyakinannya dengan merujuk pada seorang pejuang Muslim Somalia dengan menyatakan: “Tuhanku lebih besar dari Tuhannya. Aku tahu bahwa Tuhanku adalah Tuhan yang riil, sedang Tuhannya hanyalah patung”. Barangkali sang jenderal berpikir tidak ada salahnya menyatakan hal-hal provokatif semacam itu di era Presiden George Bush, yang sering menggambarkan dunia sebagai sebuah medan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, bahkan awalnya Bush menggambarkan “perang melawan teror”-nya sebagai perang salib.

Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld menolak untuk mengecam pernyataan-pertanyaan sang jenderal, yang telah dibujuk supaya minta maaf. “Aku bukanlah seorang fanatik juga bukan seorang ekstrimis,” ujarnya.

Tetapi seorang jurubicara Americans United for Separation of Church and State mengatakan, “Seseorang yang menilai tindakan kebijakan AS sebagai perang agama Kristen hendaknya tidak membuat kebijakan apapun.”

Di sisi dunia yang lain, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berpidato di pertemuan puncak Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ia menyatakan: “Selama lebih dari setengah abad kita telah berjuang untuk Palestina. Apa yang telah kita capai? Tidak ada.” Ia menyerukan umat Islam untuk berpikir, bukan hanya marah dan marah. Dan mengajak umat Islam untuk meniru langkah Yahudi: “Orang Eropa membunuh enam juta Yahudi dari total jumlah Yahudi yang berjumlah 12 juta, tetapi saat ini Yahudi menguasai dunia. Mereka dapat mengatur bangsa lain untuk berperang dan mati demi mereka… Kita tidak pernah menghargai individu Muslim yang berpikir. Yahudi dapat bertahan dari pembunuhan massal selama 2000 tahun bukan dengan membalas dendam tetapi dengan berpikir. Mereka dapat mengontrol negara-negara yang paling kuat dan mereka, komunitas kecil ini, menjadi sebuah kekuatan dunia.”

Pesan yang ingin disampaikan Mahathir Mohamad jelas: Menjawab perlakuan Israel di tanah pendudukan Palestina dan di Israel bukanlah dengan bom bunuh diri, tetapi hendaknya dengan cara merenungkan dan merancang sebuah strategi koheren. Otak, bukan dengan kekuatan fisik, adalah motto Mahathir.

Sayangnya, kontroversi yang tercipta dari pidatonya tentang Yahudi telah menenggelamkan pesan utamanya, khususnya di dunia Barat. Dapat diduga, juru bicara Israel menganggap komentar Mahathir itu sebagai anti-Semit; dan mudah ditebak, reaksi AS juga senada, seperti dikatakan juru bicara Gedung Putih, “Kami melihat pernyataan Mahathir sebagai penghinaan dan cemooh.” Menlu Italia menganggap pidato itu sebagai “sangat ofensif” dan kalangan diplomat Malaysia di London dan Berlin dipanggil menghadap kantor departemen luar negeri masing-masing negara itu untuk menerima protes keras.

Mengapa Barat seperti disengat kalajengking oleh komentar Mahathir soal Yahudi yang notabene hanya bagian kecil dari keseluruhan pidatonya? Yahudi-Kristen telah membuat apa yang disebut dengan teologi Holocaust, merujuk pada berbagai ragam penderitaan yang dihadapi Yahudi di tangan kaum Nazi Jerman. Oleh karena itu, Barat memberlakukan suatu kode etik. Siapapun dapat mengeritik Israel dan rakyat Israel, tapi jangan mengeritik Yahudi. Pada waktu yang sama, Israel mengeksploitasi sejarah tragis mereka itu dengan cara menyamakan berbagai kritikan atas negara Israel dengan anti-Semitisme.

Tentang berlindungnya kaum Yahudi di bawah ketiak negara adi daya satu-satunya, setiap orang tahu level kekuatan dan kekuasaan apa yang dinikmati kalangan lobi Yahudi dalam mempengaruhi Gedung Putih dan Parlemen AS, kendati tidak banyak pemimpin dunia yang berani bicara terang-terangan seperti Mahathir.

Pidato terakhir Perdana Menteri Mahathir di depan pertemuan dunia sebelum dia mengundurkan diri pada akhir Oktober itu mengundang sambutan meriah (standing ovation) dari hadirin yang terdiri dari berbagai pemimpin dunia, termasuk kalangan aliansi AS sendiri seperti penguasa Qatar yang negaranya digunakan sebagai markas besar utama militer AS untuk operasi Perang Irak.

Para hadirin tampaknya kurang memahami reaksi Barat atas pidato Mahathir, mungkin karena mereka tidak terbebani rasa bersalah kolektif atas tragedi Holocaust seperti yang dialami Barat.

Kata-kata kontradiktif dari Letjen Boykin dan Mahathir Mohamad mencuatkan pertanyaan yang lebih luas atas apa yang terjadi di dunia kontemporer. Di era kemajuan teknologi canggih ini, mestikah kita kembali pada perang agama seperti dulu?

Apabila sekularisme Barat, di mana AS sebagai benteng utamanya, mulai dilanggar, bagaimana dunia dapat mempertahankan ide pemisahan gereja dan negara pada agama dan lingkungan lain? Dan apabila kecenderungan negara dibentuk berdasarkan agama semakin meningkat, bagaimana hal ini dapat direkonsiliasikan dengan sistem negara-bangsa dewasa ini?

Melihat fenomena Amerika saat ini, tampak jelas kondisi politik Amerika semakin ramah pada kalangan fundamentalis agama. Hubungan antara neokonservatif yang mendominasi pemerintahan Bush dan kalangan pendukung evangelist Kristen sayap-kanan, khususnya di Selatan, sudah umum diketahui.

Presiden George Bush sendiri digambarkan sebagai seorang Kristen yang terlahir kembali. Kalimat yang sering dipakai Bush pun sering membuat kalangan sekuler khawatir. Perubahan sikap Bush ini semakin tampak terutama pasca tragedi 9/11, pengalaman traumatis yang ikut membantu gerakan kebangkitan agama.

Poin yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas adalah bukan fundamentalisme Islam saja yang perlu dikuatirkan. Banyak fundamentalisme lain, termasuk fundamentalisme varian dari Kristen, yang semakin banyak dipraktikkan di AS. Dan dalam beberapa aspek, fundamentalisme Kristen memiliki ancaman yang lebih besar karena posisi Amerika sebagai negara adi daya tunggal. Apabila sang jenderal yang sedang aktif memegang jabatan wakil menteri pertahanan untuk intelijen dapat memerankan dirinya sebagai crusader, maka ia dapat mempermainkan Konstitusi Amerika. Dan apabila Konstitusi dan aturan hukum tidak lagi diagungkan, bagaimana Amerika dapat mengibarkan bendera demokrasi di Timur Tengah dan dunia?

Pertanyaan di atas mendesak untuk segera dijawab. Apabila AS mengenakan pakaian misionaris Kristen hanya untuk mengkonversi dunia, maka AS sedang mencari masalah.

Pemerintahan Bush telah menyalurkan energinya mencoba meyakinkan dunia bahwa perangnya melawan teror bukanlah perang atas Islam. Usaha AS ini tidak akan berhasil apabila presidennya sendiri selalu berbicara untuk memerangi negara-negara poros setan dan jenderalnya melihat dunia sebagai panggung di mana diri mereka adalah para malaikat yang sedang menumpas Setan.

* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India.

Proyek Barat: Demokratisasi atau Fundamentalisasi?

WASPADA Online 06 Sep 04
Oleh A Fatih Syuhud *

Pesan dari Kovensi Partai Demokrat di Boston bulan lalu sangat jelas. Demokrat Amerika murni tidak lagi eksis. Capres John Kerry mencoba sebisanya bersikap seperti Republikan baru. Mengatasi soal Irak dengan tegang dan detail. Kita akan berperang di Irak dengan lebih baik.

Perilaku Partai Demokrat tidak mengejutkan – kalangan konservatif dan liberal memiliki asumsi yang sama. Mereka yang membenci George Bush, menyukai Michael Moore dan terperanjat menyaksikan skandal pelecehan di penjara Abu Ghuraib juga percaya bahwa walaupun mungkin salah menginvasi Irak, “perang ide” jelas sedang terjadi antara Barat yang “beradab” dan peradaban “lain” (Islam di antaranya) yang
terbelakang.
Pertama dipromosikan oleh neokonservatif setelah 11/9, teori perang ide menyatakan bahwa Barat bertempur melawan ortodoksi abad pertengahan, keimanan buta dan fanatisme agama. Pertempuran ini berdasarkan logika, pemisahan sekuler antara Gereja dan Negara, demokrasi, kebebasan dan kehidupan modern dua atau tiga ratus tahun
lalu. Islam dan masyarakat oriental lain (India dan China) belum bertempur dengan peradaban dari dalam; mereka belum menciptakan seorang Voltaire, Diderot atau Rousseau.

Dilema yang terjadi memang ada – ia menyangkut bagian besar pemikiran populasi Barat dan bahkan kalangan intelektual modernis sekuler Timur. Kelompok ini lupa satu poin penting: peradaban-peradaban Timur tidak pernah mengalami kehidupan seperti yang terjadi pada agama Kristen abad pertengahan. Yakni, pemberontakan kalangan puritan
melawan kepausan (papacy) dan kalangan rasionalis melawan purist yang menciptakan perubahan revolusioner di Eropa dan Amerika Utara. Kristen abad pertengahan bagaikan pasar takhayul dan dekadensi di mana hanya ada sedikit ruang bagi terjadinya inovasi dari dalam.

Sebaliknya, Islam memiliki sistem ijtihad (pemikiran independen). India dan China kuno juga memiliki sistem filosofi rasional dan perilaku sosial dalam tubuh keyakinan agama. Lagi pula, pergulatan antara ortodoksi dan inovasi progresif adalah tema yang konstan. Islam memiliki Muktazilah (rasionalis) pada abad ke-10. Empirium
Islam menciptakan banyak saintis, sarjana dan filosof seperti Ibnu Sina (980-1037), Ibnu Rushdi (1126-1198), Al Farabi (870-950) dan Al Kindi. Dikenal sebagai Avicenna di Barat, Ibnu Sina menjadi peletak dasar kedokteran modern. Ibnu Rushdi menemukan kembali mutiara Plato dan Aristotle; Al Kindi dan Al Farabi membuat terobosan baru di
bidang hidrolik dan menemukan simfoni, tonggak dasar musik klasik barat.

Keempat sarjana ini hanya mewakili spektrum kecil kalangan intelektual yang menciptakan kebangkitan dan pencerahan Islam. Masyarakat barat waktu itu masih barbar, penuh takhayul dan fanatik. Kebangkitan Islam menjadi peletak dasar kebangkitan Barat – hal yang diakui oleh Dante, bapak kebangkitan barat.

Setiap orang tahu bahwa sains modern berkembang melalui konsep helio-sentrik alam. Seandainya Galileo tidak menentang ide geosentrik alamnya Kristen, niscaya Barat masih berkutat dengan anggapan absurd bahwa matahari berputar mengitari bumi. Tetapi apakah Galileo helio-sentris pertama? “Bumi berotasi di porosnya (QS 27:48); bumi berotasi mengelilingi matahari (QS 7:54). Kutipan ayat Quran ini mendahului
teori Galileo delapan ratus tahun. Quran juga menyebutkan: “Langit itu melebar (QS 51:47)”. Sejumlah gambar yang diambil oleh Edwin Hubble di observatorium Mount Wilson pada 1929 menunjukkan terjadinya pelebaran alam, yang mengarah pada teori Bing Bang. Quran mengantisipasi hal ini 14 abad lalu. Tidak sebagaimana Quran, Injil
melawan interpretasi sekuler. Oleh karena itu, kalangan rasionalis Barat harus memutuskan diri dari agama. Kalangan liberal barat kontemporer mendesak muslim moderat untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi mengapa mesti memecah agama sedangkan Islam tidak seperti Kristen dan justru mendorong penggunaan akal? Begitu pula, India Brahma, bahkan sebelum Islam, sudah mengenal bahw alam bersifat helio-sentrik. Kalangan avonturir Arab dan Iran menyaring pengetahuan yang pada dasarnya didapat dari India, Cina dan peradaban pagan barat klasik. Berbeda dengan Barat, orang Arab dan Iran tidak pernah
menyembunyikan sumber-sumber asal mereka. Aljabar (algebra) disebut Al Hind (India) dan resep Arab disebut pengobatan Yunani. Selama era abad pertengahan adalah Bhava Misra yang mengajukan teori sirkulasi darah, jauh sebelum William Harvey. Ide demokratik dalam bentuk yang kita kenal sekarang sebenarnya diekspresikan pertama kali oleh Kaisar Islam India dalam karyanya Sulh-I-Kul (damai dan persaudaraan untuk
semua). Ide persamaan sosial, kebebasan individual dan revolusi petani semuanya pernah dibahas dalam bahasa lokal oleh reformis sosial India semacam Shah Waliullah, Pandit Jagannath dan lain-lain.

Permainan yang dimainkan oleh Barat adalah untuk menolak Timur dari sains dan rasionalitasnya sendiri. Ia juga semakin terlibat dalam menciptakan fundamentalisme Islam modern dan berbagai bentuk fasisme lain, yang membuat Timur terus tak peduli pada masa lalu dan kontemporernya. Kelompok konservatif Barat sebenarnya ingin
membangkitkan kembali fanatisme Kristen yang “tercerahkan” ke Timur. Apabila George Bush hendak memerangi tirani dan praduga di Timur Tengah, megnapa pasukan AS di Irak dipaksa membawa Injil dan bukan karya-karya Muktazilah, Ibnu sina atau bahkan karya rasionalis semacam Benjamin Franklin atau Thomas Paine?

Saat ini, modernis Timur yang setengah jadi muncul sebagai tokoh pro-Barat. Kekuatan anti-Barat, sebagai tanggapan, menggunakan fanatisme buta. Skenario yang akan terjadi sungguh menakutkan. Apabila Barat tidak menggunakan jalan dan cara lokal menuju pencerahan Asia dan Timur, maka yang akan terjadi adalah kemenangan barbarisme baik di Timur maupun di Barat.

* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University,
India.

Mengkaji Ulang Kontraterorisme

WASPADA Online 24 Apr 04

Oleh A Fatih Syuhud *
Pengeboman di Madrid menjadi sebuah indikasi yang jelas betapa tidak tepatnya perang atas terorisme selama ini. Saya kira sah-sah saja kalau kita mengkritisi AS atas sikapnya dalam merancang perang dan mengimplementasikannya sebagai agenda personal seorang Presiden Amerika, yang dalam catatan sejarah dikenal selalu menanam benih perpecahan antar-agama. Akan tetapi komunitas internasional tidak kurang salahnya membiarkan terjadinya sebuah perang yang semakin lama semakin menjadi benturan budaya, untuk tidak mengatakan peradaban.

Lebih menyedihkan lagi, Presiden George W Bush – atas nama perang kontraterorisme – telah menumbuhkan pola pikir, khususnya di Barat, yang sangat berlebihan dengan janji menggantung para teroris di depan publik Pengadilan Amerika. Perang Presiden Bush telah membutakan publik Amerika dan pada tahap tertentu, publik dunia, untuk haus darah dan dahaga akan perang yang membuat ribuan warga sipil tak berdosa tewas dan mengobarkan kesumat jutaan yang lain untuk membalas dendam.
Kesalahan fatal dalam perang Amerika atas terorisme, yang diperdebatkan dan diseminarkan tiada henti oleh kalangan ikon intelektual akademisi dan think tank Barat dalam dua tahun terakhir, adalah bahwa ia dirancang bak operasi bedah oleh ahli bedah yang tak bervisi dengan hanya bermodal sebuah kapak. Kalangan pembuat kebijakan Amerika tidak mampu bersikap lebih arif dari nenek moyang mereka, yang atas nama menaklukkan Dunia Baru, menjagal jutaan suku Indian.

Kebijakan menjarah dan membunuh berlanjut sampai kini, walau dengan sofistikasi istilah. Jadi, para pembuat kebijakan AS melihat Al Qaidah di Afganistan dan selama dua tahun memuntahkan amunisi bernilai ratusan milyar dolar di kawasan pegunungan dan populasi sipil sampai mereka dapat menjatuhkan rejim Taliban dari Kabul dan memasang penguasa boneka.

Bom Madrid merupakan gelombang balas dendam kedua yang dilakukan oleh teroris anonim, yang berkonsolidasi dengan penuh kemarahan di seluruh dunia, termasuk Spanyol, bahkan ketika Amerika mulai menyerang Irak.

Kendati terlalu dini saat ini untuk membuat analisis komprehensif, temuan awal mengarah pada keterlibatan jaringan teror global, yang sering secara simplistik disebut Al Qaidah.

Salah seorang yang ditahan untuk diinterogasi dalam kasus peledakan Madrid adalah orang Maroko bernama Jamal Zougam, yang sudah berada dalam daftar pengawasan aparat keamanan setelah peledakan di Casablanca, Maroko, pada Mei 2003 yang menewaskan lebih dari 30 orang. Tidak banyak diketahui tentang Zougam kecuali bahwa dia dikenal oleh Imad Eddin Barakat Yarkas, alias Abu Dahdah, ketua jaringan Al Qaidah-nya Usamah bin Ladin di Eropa.

Besar kemungkinan Zougam adalah salah satu anggota Al Qaidah sel Madrid, yang masih eksis setelah sel pertama dibubarkan menyusul serangan 11 September dan penahanan Abu Dahdah karena menjadi salah satu otak tragedi itu.

Hubungan menarik lain yang sedang diteliti adalah adanya kemungkinan hubungan antara Al Qaidah dan ETA, kelompok separatis Spanyol.

Terdapat laporan intelijen bahwa anggota ETA pernah bertemu Bin Ladin dan kelompoknya di Brussel guna membahas kemungkinan aliansi antara kedua kelompok tetapi tidak begitu berhasil. Mohammad Atta, pilot bunuh diri yang memimpin serangan WTC, juga mencoba berhubungan dengan ETA ketika separatis Basque berencana untuk mengebom Piccaso Tower pada Natal 1999 yang dapat dilihat sebagai bagian dari rencana Pengeboman Millennium (Millennium Bombing) yang gagal yang juga direncanakan Al Qaidah.

Investigasi atas perjalanan Atta sepanjang Eropa dan Asia, sebelum 11 September, juga mengungkapkan bahwa sel Madrid memainkan peran kunci –secara organisasional – dalam pendanaan dan pemberian logistik serangan WTC. Sebagai contoh, Atta mengunjungi Spanyol dua kali – pertama pada 8 Juli 2001 ke Madrid untuk menemui kelompoknya. Atta sendiri masuk dalam sel Hamburg dengan Marwan al Shehhi dan Zia al Jarrah, dua pilot lain yang menabrakkan pesawat ke gedung WTC dan Pentagon. Atta kembali ke Spanyol pada 14 Juli tepatnya ke Tarragona untuk menemui seorang tahanan Aljazair, Nizar Trabelski, yang dikenal kemampuannya dalam memalsu dokumen perjalanan dan finansial; tanpa dia anggota Al Qaidah tidak akan dapat memiliki jaringan seluruh dunia.

Salah seorang yang sering dihubungi Atta adalah Abu Dahdah. Dahdah mengepalai sel Madrid dan merupakan penghubung finansial dan logistik jaringan Al Qaidah. Dahdah berhubungan dengan Said Bahaji, pakar komputer dan manajer logistik jaringan ini, yang terakhir terlihat dalam sebuah hotel di Karachi sehari setelah 11 September 2001, sebelum ia tinggal landas menuju destinasi yang tak terlacak dengan penerbangan Turkish Airlines setelah mengirim email perpisahan pada istrinya di Jerman. Dalam buku diari Bahaji, yang ditemukan kemudian, tercantum nama Dahdah.

Hubungan Dahdah tidak terbatas ke Eropa. Ia juga biasa ke Indonesia di mana ia bekerja sama dengan Jamaah Islamiah untuk melatih teroris. Dahdah tidak hanya seorang manajer logistik; ia juga pencari dana, perekrut, pelatih anggota baru di samping penghubung yang efisien.

Agen penghubung Dahdah di Indonesia adalah Parlin Siregar yang dikirim ke Indonesia pada akhir 2000 guna membangun kamp pelatihan untuk teroris di Sulawesi. Salah satu pembantu dekat Dahdah adalah Yusef Galan, mantan anggota ETA dan anggota penting dari Sel Madrid.

Menurut pakar intelijen Prancis Jean Charles Brisad, yang memberi briefing pada Dewan Keamanan PBB soal Al Qaidah, Galan dan Parlin sering bertemu baik di Spanyol maupun di Indonesia dan berencana membentuk kamp pelatihan militan di Indonesia. Terdapat bukti adanya kontak antara Parlin dengan anggota Al Qaidah senior yang berbasis di Kuwait, Umar al-Faruq dan sedikitnya dua warga Australia, Sheikh Mohammad Omran dan Bilal Khazal asal Sydney. Salah satu dari kolega Dahdah adalah seorang klerik yang tinggal di London, Abu Qatada.

Dahdah bertemu Qatada sedikitnya 20 kali sebelum serangan 11 September. Qatada mendapat perlindungan politik dari Inggris pada 1993 setelah pengadilan Jordan menghukumnya seumur hidup in absentia atas keterlibatannya dalam serial peledakan.

Dahdah mengirim sejumlah besar uang secara teratur pada klerik London itu. Seminggu setelah 11 September, aparat Inggris menemukan bahwa sang klerik, atas nama dana sumbangan, mengeluarkan tiga lembar cek bernilai total AS00. Dalam rekeningnya di Royal Bank of Scotland, menurut investigator, pernah ditemukan uang senilai AS$ 180.000.

Uraian singkat tentang jaringan kelompok teroris dan simpatisannya yang begitu meluas di atas adalah untuk menekankan poin bahwa jaringan ini eksis dan masih akan berlanjut. Ini terjadi setelah dua tahun diberlakukannya perang atas terorisme. Bahkan tidak hanya sekedar eksis, lebih dari itu akan tumbuh subur kecuali apabila AS dan aliansinya seperti Spanyol, Inggris dan Australia segera mengkaji ulang kebijakan kontraterorisme-nya.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India.