Archive for Agustus, 2005


112443517272808285

Haloscan commenting and trackback have been added to this blog.

Dinasti Saud, Abdullah, dan Suksesi Horizontal

Jawa Pos, Jumat, 12 Agt 2005
Dinasti Saud, Abdullah, dan Suksesi Horizontal

Oleh A. Fatih Syuhud *
Arab Saudi memiliki dua fitur unik: menguasai lebih dari seperempat cadangan minyak global dan menjadi tuan rumah dua tanah suci Islam; Makkah dan Madinah.

Pada 1744, Muhammad al-Saud mengadakan perjanjian dengan Muhammad Abdul Wahab, seorang ulama dan pemikir. Saud sepakat mendedikasikan diri dan pengaruhnya untuk kepentingan Islam, sedangkan Abdul Wahab, pendiri paham Wahabi, setuju menjadi guru spiritualnya.

Pada 1901, peletakan batu pertama negara Arab Saudi dilakukan Abdul Aziz al-Saud, dan pada 1932, proses itu terwujud sempurna dengan diproklamasikannya negara Saudi dalam bentuknya saat ini.
Keluarga Kerajaan Saudi saat ini bukan hanya terdiri atas anak Abdul Aziz, yang berjumlah sekitar 35 anak laki-laki dan anak perempuan yang tak diketahui jumlahnya, tetapi juga cucu dan cicit serta anak cucu dari klan aliansi.

Klan aliansi itu diperkirakan berjumlah 5.000 sampai 10.000 laki-laki, sekitar 200 sampai 300 di antara mereka aktif dalam pemerintahan. Para pangeran memegang jabatan penting baik sebagai menteri atau gubernur di sejumlah provinsi.

Setelah Abdul Aziz, suksesi kepemimpinan dalam keluarga bersifat horizontal -Putra Mahkota berjalan dari adik ke adik. Ada kisah historis di balik terjadinya bentuk suksesi semacam itu. Anak pertama Abdul Aziz meninggal pada usia muda, Saud adalah anak kedua, sedangkan Faisal anak ketiga.

Dalam pengamatan Abdul Aziz, Faisal lebih pantas menjadi penggantinya. Karena itu, dia diberi jabatan dalam pemerintahan dan misi diplomatik sejak usia 14 tahun.

Namun, Saud tidak bisa diloncati begitu saja. Karena itu, ketika Saud dideklarasikan sebagai Wali al-Ahd atau putra mahkota, pada waktu yang sama juga diumumkan bahwa Faisal yang nantinya akan mengganti Saud. Faisal berkuasa dari 1964 sampai 1975.

Raja Khalid berkuasa setelah itu, namun pada hakikatnya Putra Mahkota Fahd yang berkuasa. Fahd resmi menjadi raja dari 1982 dan kematiannya menandai akhir era yang sangat panjang.

Misalnya, dari petro dolar yang membuat negara itu makmur, revolusi di Iran, penyerangan tanah suci Makkah oleh kelompok radikal Saudi, perang Iran-Iraq, perang di Afghanistan dan Iraq, sampai perang kontrateror yang sedang berlangsung.

Fahd memimpin negaranya melewati semua masa tersebut. Fahd-lah yang mengusulkan “Rencana Perdamaian Fahd,” indikasi pertama dari penguasa Arab yang secara implisit mengakui hak Israel untuk hidup damai. Fahd juga yang memproklamasikan Undang-Undang Dasar Saudi dan membentuk parlemen.

***
Dalam lingkungan keluarga kerajaan, terdapat sejumlah kecil faksi. Setiap faksi berebut supremasi berdasarkan kekuatan kuantitas, pengaruh politik, dan kedekatannya pada monarki yang berkuasa.

Fahd membawahkan faksi paling besar -suku Sudairi. Mereka dikenal dengan “Tujuh Sudairi,” yang memegang sejumlah posisi penting di pemerintahan. Sudairi, walaupun bersatu terhadap yang lain, tidak terlepas dari persaingan di antara kalangan sendiri.

Abdullah, raja yang baru, dipandang sebagai sebuah antitesis kalangan Sudairi. Ibunya berasal dari suku Shammar di bagian utara Saudi, dan dia memiliki pengaruh serta basis kuat di sana.

Tetapi, dia dikenal sederhana dan berintegritas tinggi. Apabila Fahd berkuasa saat Khalid menjadi raja, maka Abdullah secara resmi menjadi “pejabat raja.” Walau tetap sebagai raja, Fahd menyerahkan tugas pemerintahan kepada Abdullah pada pertengahan 1990-an saat dia dalam perawatan.

Abdullah sudah menjadi penguasa de facto selama satu dekade. Sikapnya selama periode tersebut menjadi petunjuk terbaik atas berbagai kebijakannya pada tahun-tahun mendatang. Secara domestik, dia telah memberikan ruang bagi kebebasan lebih besar untuk mengkritisi, mempertanyakan, dan mengeluarkan memorandum serta petisi untuk perubahan dan reformasi.

Dia juga memprakarsai “Dialog Nasional” yang sangat populer dengan sejumlah tokoh masyarakat Saudi. Baru-baru ini, Saudi telah merampungkan pemilu tingkat lokal yang cukup bebas dan fair.

Selain itu, terdapat sejumlah tuntutan untuk diadakannya sebuah monarki yang konstitusional, tuduhan korupsi dalam lingkaran pusat kekuasaan, penentangan terbuka dan demonstrasi, serta peledakan.

Pada Mei 2003, terdapat sejumlah ledakan bom di Riyadh. Sejak itu, pemerintah berkali-kali mengklaim telah membongkar dan menghancurkan sel-sel teroris.

Dalam politik luar negeri (poluneg), kontribusi terbesar Abdullah adalah pemulihan hubungan dengan Iran. Dia menghadiri konferensi puncak OKI (Organisasi Konferensi Islam) di Teheran pada akhir 1977 dan menjamu Presiden Iran Muhammad Khatami dua tahun kemudian. Kedua peristiwa itu adalah yang pertama terjadi sejak Revolusi Iran.

Kedua penguasa pragmatis tersebut telah melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk memelihara hubungan. Hubungan bilateral kedua negara, tampaknya, akan terus membaik.

***
Last but not least, konvensi suksesi horizontal di negara itu akan terbukti membawa keberuntungan dan sekaligus kelemahan. Sampai saat ini, sistem tersebut telah menjadi mekanisme inklusif. Sistem itu membuat seluruh faksi dalam keluarga besar bin Saud terlibat dan memberi mereka peran. Tetapi, di sisi lain, sistem tersebut menciptakan suksesi oleh figur yang berasal dari generasi yang sama. Abdullah sudah sangat tua dan -karena itu- masa kekuasaannya tidak akan panjang.

Suksesi kekuasaan yang cepat pada gilirannya akan mendorong dan mengaktifkan kandidat yang lebih muda menuju kekuasaan. Padahal, monarki Saudi, dalam kondisi saat ini, cukup rentan terhadap tiupan politik yang kencang di kawasan.

*. A. Fatih Syuhud, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India

This article also appeared in Radar Sulteng Daily


Amerika dan Terorisme

Harian Pelita, Senin 1 Agustus 2005

Amerika dan Terorisme
Oleh A. Fatih Syuhud *

Tragedi di balik tragedi London adalah pertanggungjawaban yang dibebankan pada Muslim seluruh dunia, untuk sekali lagi menggiring umat Islam dalam posisi defensif. Media seluruh dunia terfokus pada tokoh Muslim lokal, mewawancarai tokoh agama, menanyakan berbagai pertanyaan kasar, dan memberi kesan seakan-akan seluruh umat Islam bersalah atas terjadinya terorisme, dan karena itu, harus menjawab pertanyaan: apa yang akan Anda lakukan dalam soal ini?

Terdapat pemandangan menyedihkan di BBC di mana seorang Muslimah muda Inggris mencoba meyakinkah wartawan televisi yang agresif bahwa terorisme bukanlah Islam, bahwa Muslim bersatu-padu dengan dunia “beradab” dalam mengecam kekerasan, dan bahwa esensinya mereka orang-orang baik. Seorang ulama Inggris, yang juga kritis pada terorisme, mencoba meyakinkan wartawan Amerika di London bahwa dia berusaha keras untuk “mengatasi” situasi. Tidak ada yang tahu bagaimana dia akan melakukan hal itu, tetap dia tak punya pilihan kecuali dengan bersikeras bahwa dia akan melakukan sesuatu karena menjawab isi pertanyaan yang sama: apa yang akan Anda lakukan?
Terorisme bukanlah masa lalu Islam. Ia tak ada hubungannya dengan Islam. Ia erat kaitannya dengan manipulasi Islam selama beberapa dekade terakhir oleh sejumlah negara. Terorisme berhubungan erat dengan sejumlah negara kuat, yang melakukan kebijakan ini secara sengaja, terencana dan sistematis. Islam menjadi tempat persembunyian. Islam adalah agama yang dimanipulasi dan dieksploitasi umumnya karena lapangan permainan baru berada di Timur Tengah yang kaya minyak di mana Islam menjadi agama dominan.

AS memasuki kawasan ini melalui Saudi Arabia yang dulu banyak mendanai berbagai madrasah di seluruh dunia, guna menyebarkan ideologi wahabisme; untuk mewarnai Islam yang menolak pemikiran progresif dan menciptakan imej Islam di dunia sebagai agama yang tidak toleran. Dari situ, perbedaan antara Islam yang “primitif” dan Barat yang “civilized” pun semakin menguat.

AS melakukan intervensi di Afghanistan, bukan demi demokrasi, tetapi untuk menciptakan Usamah bin Ladin. Untuk mendanai Taliban. Untuk mendirikan pasukan mujahidin Islam guna melawan Uni Soviet. Perbedaan pun semakin terbentuk. Sebuah pasukan pejuang Islam yang tak terorganisir, bersenjata lengkap, semangat dan komitmen pada “Islam” versus pasukan “civilized” berseragam dan berada di bawah kontrol politik. Pesan yang ingin disampaikan pada kalangan anak muda Muslim pengangguran yang sedang mencari identitas adalah: kekerasan itu bermanfaat dan perlu. Bergabunglah dengan Taliban, pelajari Islam ala Saudi, bukan hanya Allah bahkan Paman Sam pun akan tersenyum senang. Frustrasi pada kemiskinan dan sulitnya lapangan kerja secara hati-hati digiring menjadi kemarahan atas dunia di berbagai lembaga pendidikan Islam yang didanai pihak yang tak terlihat. Islam sedang dalam ancaman dan bahaya; mereka versus kita. Selamatkan Islam dari kaum kafir (walaupun kenyataannya adalah mereka mendanai kita). Demikianlah, pasukan baru mulai terbentuk.

Tokoh-tokoh baru semacam Usamah bin Ladin pun muncul. Bahwa kemudian mereka berbalik memusuhi pihak yang awalnya mendidik mereka, itu soal lain. Tetapi intinya di sini adalah bagaimana awalnya terorisme dibimbing dan didanai oleh negara yang terorganisir demi mencapai tujuannya sendiri.

Madrasah di Pakistan yang dianggap bertanggung jawab atas terorisme oleh negara yang sama yang pernah memperkuat jaringan ini, tidak begitu signifikan perannya dibanding beberapa negara semacam AS, Saudi Arabia dan Pakitan. Madrasah di Pakistan hanyalah entitas kecil tanpa kekuatan apapun tanpa adanya dana dan patron negara.

Bagaimanapun, sistem madrasah sudah eksis dan sama tuanya dengan Islam itu sendiri, tetapi baru dewasa ini sebagian darinya telah menjadi lahan pelatihan bagi kalangan teroris dan merusak imej madrasah/pesantren secara keseluruhan di mata dunia. Setelah patron negara ditarik menyusul terjadinya serangan teror 11/9 dan berita tentang madrasah ini hilang dari pemberitaan internasional, muncul teroris muka baru pada 7/7 di London yang tidak pernah menjadi bagian dari sistem itu.

Pembunuhan masal yang disponsori negara di Irak, pembunuhan ribuan rakyat Palestina oleh Israel, penghinaan atas Quran di Guantanamo oleh pasukan terorganisir Barat yang semestinya civilized, kekejaman luar biasa di penjara Irak, jelas telah menciptakan kemarahan dan frustrasi di dunia.

Tidak hanya dunia Islam. Seluruh warga dunia yang taat hukum, sensitif and responsif kaget dengan apa yang terjadi di Afghanistan, Irak, pada rakyat tak berdosa yang telah menjadi korban atas desain jahat negara-negara kuat. Invasi dan serangan AS dan koalisinya di negara mayoritas Muslim telah dimanfaatkan oleh mastermind terorisme untuk menyulut ketidakpuasan, kemarahan dan mentrasformasi hal ini menjadi tindakan nyata. Berbagai lingkaran setan aksi kekerasan ini (aksi balas dendam, serangan rasial, komunalisme) yang tercipta akan mempermudah mendapatkan rekrut baru, dan tambahan dukungan atas terorisme semacam itu. Itulah kenyataan dunia saat ini.

Dengan demikian, apabila saat ini umat Islam diminta untuk mengecam kekerasan, dan meminta maaf atas berbagai tindakan teroris yang tidak mereka sukai, maka tuntutan serupa oleh CNN dan Fox News hendaknya juga diajukan pada George W. Bush dan anak buahnya yang melakukan kejahatan untuk mengecam kekerasan yang disponsori negara. Bush harus meminta maaf karena mendorong berkembangbiaknya terorisme, menciptakan Usamah bin Ladin, mendukung kamp pelatihan teroris yang didirikan negara aliansi AS. Bush harus meminta maaf karena menginvasi Irak, karena berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan, dan menentukan jadual penarikan mundur dari negara berdaulat. []

* Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India