Archive for Mei, 2005


Arab Dan Demokrasi

Banjarmasin Post, Jumat, 27 Mei 2005 02:11

Oleh: A Fatih Syuhud

Dengan munculnya United Iraqi Al liance (UIA) yang didominasi Syiah sebagai partai mayoritas di parlemen, Irak siap untuk merancang konstitusi permanen yang akan menjadikan syariah (Hukum Islam) sebagai sumber utama UUD Irak. Prospek ini membuat kalangan Barat was-was, yang melihat hal ini sebagai pengantar menuju bangkitnya rezim theokratik di Baghdad.

Kekuatiran semacam itu sebenarnya tidak perlu. Sebaliknya, AS dan negara Barat lain sebaiknya meneliti bagaimana negara tetangga Irak telah mencampur aduk agama dan negara. Bagaimana gagal dan suksesnya mereka bergabung dengan dunia modern.

Sebenarnya, kekuatiran terbesar adalah Irak akan mengikuti langkah Iran. Sistem theokrasi Teheran berdasarkan pada ide aturan hukum Islam (vilayat-i faqih), sebuah konsep yang dikembangkan dalam bentuknya yang modern oleh Ayatullah Rohullah Khomeini, pemimpin revolusi 1979. Di bawah hukum itu, ulama berpartisipasi dalam keseharian menjalankan negara, dan memiliki kekuasaan guna menjamin seluruh hukum dan aturan sesuai dengan Islam dan konstitusi negara.
Namun demikian, sangat tidak mungkin Irak akan melalui jalan ini. Sunni tidak terikat pada doktrin vilayat-i faqih, yang berakar dalam sejarah dan ideologi Syiah. 90 persen rakyat Iran adalah Syiah, sementara sedikitnya 35 persen populasi Irak adalah Sunni yang terdiri atas Arab dan Kurdi. Karena Konstitusi interim memberi hak veto pada Arab Sunni dan Kurdi atas konstitusi permanen apabila diadakan referendum, maka tidak ada peluang konsep legal Syiah akan menjadi pondasi hukum di Irak.

Apa yang dilupakan Barat adalah, Iran bukan satu-satunya negara Teluk Persia yang mencampur elemen demokrasi dan agama. Lihat misalnya tetangga Irak, Saudi Arabia dan negara kecil Qatar.

Bulan lalu, untuk pertama kalinya dalam 73 tahun Saudi Arabia mengadakan pemilu untuk kursi di dewan lokal, sebuah langkah yang dilakukan Qatar enam tahun sebelumnya. Pemerintah Saudi menggembar-gemborkan pemilu lokal ini sebagai peristiwa historik, dan secara lihai menyeponsori konferensi antiterorisme internasional di ibukota Riyadh menjelang pemilu untuk menarik jurnalis asing yang mungkin tidak akan tertarik meliput pemilu lokal tersebut.

Keantusiasan ini tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa rezim Saudi sebenarnya telah menjanjikan reformasi politik pertama kali pada 1962. Tiga puluh tahun berlalu sebelum Raja Fahd mengisukan UUD negara, dan dia melakukan itu melalui dektrit kerajaan bukan melalui proses legislatif apa pun.

Itulah mengapa rakyat Saudi begitu tak percaya pada janji pemerintah mereka ketika mengambil langkah pertama menuju demokrasi, sehingga hanya seperempat pemilih yang mendaftar dan hanya dua pertiga dari pendaftar yang datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Seperti dimaklumi, wanita tidak dibolehkan memilih. Seperti tidak bolehnya mereka menyetir mobil serta wajib mengenakan abaya, semacam baju kurung tradisional yang menutup kepala sampai kaki.

Islam menjadi agama resmi Saudi Arabia. Seluruh legislasi diambil secara eksklusif berdasarkan Syariah. Anggota pemerintahan dari kalangan Wahabi yang sangat puritan. Legitimasi agama keseharian kerajaan dibuat oleh Dewan Agama Tertinggi, yang ditunjuk oleh raja.

Apa yang terjadi di Qatar agak berbeda. Rakyat Qatar merasa bangga atas sistem politik mereka, di mana pemilu lokal pertama diadakan pada Maret 1999; dan tidak sebagaimana di Saudi, perempuan Qatar memiliki hak pilih yang sama dengan kaum lelaki.

Sebagaimana Saudi Arabia, keluarga kerajaan Qatar adalah Wahabi. Syariah Islam juga menjadi sumber utama perundang-undangan. Namun demikian, Qatar memiliki sistem politik yang relatif demokratis. Konstitusi membentuk parlemen yang beranggotakan 45 orang yang disebut Dewan Penasihat (DP), dengan 30 anggota diangkat berdasarkan pemilu. DP memiliki otoritas untuk menyetujui APBN dan memonitor otoritas eksekutif yakni penguasa yang disebut amir.

Pasal 50 dari konstitusi yang menjamin kebebasan untuk beribadah, berlaku pada semua agama. Gereja Anglikan untuk kawasan Teluk Persia berpusat di Doha. Umat Kristiani dapat berkumpul bebas di gedung atau vila pribadi, di mana pastor atau pendeta dapat mengadakan misa.

Tak kalah pentingnya adalah Pasal 48 Konstitusi Qatar, yang menjamin kebebasan pers. Pada Maret 1998 amir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa al Thani, menghapus departemen penerangan. Dengan demikian menjadi akhir dari sensor media cetak maupun elektronik. Entitas media milik negara menjadi institusi publik yang independen. Kebebasan pers ini pada gilirannya memperluas horizon sumber berita Arab paling spektakuler, Al Jazeera, yang didirikan pada 1996.

Perempuan Qatar bebas menyetir mobil dan bercelana jeans; di pantai atau kolam renang mereka bahkan biasa berbikini. Perempuan memiliki hak politik sama dengan lelaki. Menteri pendidikan juga seorang perempuan.

Apa yang ingin saya kemukakan dari gambaran singkat kondisi politik Saudi Arabia dan Qatar di atas adalah, bahwa apabila dua negara homogen -yang sama-sama Sunni dan penguasanya berlatarbelakang puritan Wahabi- dapat begitu berbeda, maka kecil kemungkinan Irak -dengan aneka aliran agama dan kelompok etnis– akan meniru republik fundamentalis atau monarki.

Karena itu, menarik untuk dilihat ke depan, bagaimana kemunculan Republik Islam Irak menciptakan kategori bagi dirinya sendiri di antara negara demokratik namun religius di Teluk Persia.

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India
e-mail: fatihsyuhud@rediffmail.com

Makna Nasionalisme

Oleh Mario Gagho

Tulisan refleksi saya yg berjudul “NDTV dan Wanita
Cantik” kebetulan juga saya posting ke Milis Nasional
PPI-India
.

Dan diluar dugaan banyak mendapat apresiasi terutama
dari kaum perempuan dan diforward ke berbagai milis
lain. Salah satu dari mereka yg memberi apresisasi dan
resensi via email pribadi adalah seorang redaktur
sebuah stasiun TV berita di Indonesia, seorang wanita
cantik, cerdas dan sangat dinamis. Setelah memotivasi
saya untuk terus berkarya, dia juga sedikit curhat
karena, katanya, tengah mengalami krisis nasionalisme.

Dia kecewa pada Indonesia. Pada pejabatnya yg tak
pernah puas korupsi setiap ada peluang. Pada sistem
birokrasi yg tak pernah berubah ruwetnya. Pada
kalangan aktivis yg awalnya tampak idealis tapi
setelah mendapat peluang korupsi juga tidak menolak.
Poin terakhir ini tentu saja merujuk pada kasus
Mulyana W. Kusuma, sekjen KPU yg terlibat skandal
suap. Dia juga sedih dg sikap pejabat negara yg penuh
retorika ala penatar P4, demen upacara dan berseragam
rapi, tapi suka lupa untuk merapikan borok-borok yg
dibungkus stelan jas perlente itu.

Emailnya yg sangat panjang dan berapi-api itu membuat
saya jadi ikutan terpaku dan merasakan kekecewaan dan
keputusasaannya. Kecewa dan putus asa timbul biasanya
karena “the unexpected result”. Adanya kesenjangan
antara realitas dan harapan. Ketika genderang
reformasi ditabuh dan Suharto jatuh, semua dipenuhi dg
harapan tinggi bahwa KKN di Indonesia akan habis dalam
waktu singkat; dan dg demikian ekonomi negara akan
membaik, dan kemakmuran rakyat secara merata bukan
lagi impian. Realitasnya, KKN tetap berjalan dg aman.
Pelakunya adalah pemain lama plus debutan baru yg juga
ingin menikmati enaknya ber-KKN ria.

Dua hari setelah itu baru saya jawab emailnya. Saya
katakan dg singkat bahwa kita tak perlu terlalu
kecewa. Kita lakukan saja apa yg bisa kita lakukan
untuk memperbaiki bangsa ini melalui keahlian yg kita
bisa. Bagi seorang presenter seperti dia, beritakan
kabar apa adanya dan jangan mudah tunduk pada tekanan
pejabat. Bagi intelektual, teruskan mengeritik dg
jujur dan niat baik. Bagi pejabat yg jujur, sebarkan
kejujuran itu pada koleganya; karena jujur sendirian
bagi pejabat sama dg inaction — kediaman pejabat
jujur pada korupsi yg dilakukan koleganya sama dg
ketidakjujuran dan dg demikian bisa dianggap ikut
bertanggung jawab pada KKN yg terjadi di depan
matanya.

Saya juga katakan padanya, bahwa apapun yg terjadi
kita tetap bangsa Indonesia. Status kita tetap tak
akan berubah walaupun seandainya kita merubah
kewarganegaraan. Our heart and mind are Indonesian.
Nobody will regard us as American or Australian
kendati kita pemegang paspor AS atau Australia
sekalipun. Dg demikian, nasionalisme dalam arti hakiki
identik dg jati diri asal dan karena itu tidak mudah
untuk berubah, suka atau tidak suka. Orang India warga
AS tetapi dijuluki “Indian-American”. Oleh karena itu,
jalan satu-satunya adalah memperbaiki apa yg bisa kita
perbaiki. Walaupun untuk sementara ini kita tidak
merasa bangga menjadi orang Indonesia, tapi justru di
saat seperti inilah sikap nasonalisme kita teruji.

Saya katakan juga bahwa suatu hari nanti–entah
kapan–akan tiba saatnya ketika kita akan bangga
menyebut diri “I am Indonesian”, karena saat itu,
Indonesia identik dg berbagai hal yg indah-indah:
negaranya yg indah dan permai, bangsanya yg ramah,
dewasa dan penuh toleran, pejabatnya yg bersih bukan
hanya bajunya, dan ekonomi yg lagi booming dan
dicemburui negara-negara Barat. Mungkinkah hal itu
terjadi? Saya yakin, walaupun agak ragu.***

Membaca Sebagai Gaya Hidup

Oleh: Mario Gagho

Hari Senin memang hari kurang tepat untuk mengunjungi
FRRO (Foreign Regional Registration Officer). Tapi
berhubung resident permit saya sudah tinggal sekian
hari lagi, saya terpaksa datang. Benar. Suasana ramai
sekali di kantor imigrasi itu. Persis seperti di
lounge ruang tunggu bandara. Saya mengambil posisi
duduk di sudut belakang supaya bisa agak bebas
“memata-matai” yg baru datang maupun yg sudah duduk
menunggu namanya dipanggil.

Duduk di samping saya sebuah keluarga bule, suami
istri dan dua anaknya yg masih kecil, antara usia 10
dan 12 tahun. Berbeda dg kalangan bangsa lain termasuk
NRI (non-resident of India) yg sibuk ngobrol dan
ribut, keluarga bule ini duduk tenang di kursi
masing-masing. Anehnya, semua sibuk membaca. Suami
tampak sedang membaca “My Life”-nya Bill Clinton, si
istri membaca novel karya novelis favorit saya, John
Grisham. Sedang kedua anak mereka asik membaca komik
Archie. Rencana untuk mengajak mereka ngobrol saya
urungkan, takut mengganggu; dan saya pun jadi membuka
buku karya Edward W. Said “the End of the Peace
Process” yg sudah sebulan lebih saya pinjam dari Qisai
tapi belum beres juga bacanya.

Pemandangan orang bule yg lagi asik membaca juga
sering kita lihat di mana-mana: di bandara, dalam
pesawat, dalam bis, dll.

Membaca (dan menulis) merupakan tradisi masyarakat
modern dan civilized. Sebaliknya, berbicara (dan
jarang membaca) menjadi ciri tipikal masyarakat yg
belum modern dalam arti hakiki. Walaupun secara
artifisial (phisical appearance) sudah “modern dan
civilized”: berbaju dan berperilaku dg mengikuti trend
dan model mutakhir, kacamata ala Britney Spears,
Rambut ala Beckham, John Farrell, Brad Pitt, dll.

Seorang rekan pernah bertanya pada saya, “Apa beda
antara masyarakat modern (Barat) dan masyarakat
agraris?” Saya jawab singkat, “Yg pertama sebagai
penggembala, yg kedua sebagai dombanya.”

***

Sebenarnya pertanyaan terpenting adalah mengapa Barat
jadi “penggembala” dan kita dg suka rela menjadi
“domba gembalaan” di segala bidang? Bukankah kita
sama-sama manusia yg memiliki ego dan ambisi untuk
menjadi penggembala? Secara historik, jawabannya bisa
dikronologikan dari awal abad ke-11 sampai terjadinya
revolusi ‘Renaissance’ Prancis dan berlanjut sampai
sekarang. Sangat panjang.

Namun, semua itu berakar dari satu hal: pendidikan.
Semakin unggul dan meratanya pendidikan suatu bangsa,
maka akan semakin independen bangsa itu dari
ketergantungan pada bangsa lain. Barat plus Jepang
saat ini memimpin dunia. Mereka yg “menggembala” kita
di segala bidang: dari pesawat, komputer, game,
kosmetik, baju, telpon genggam, sampai merek pembalut
wanita dan underwear.

Begitu juga, dalam konteks kompetisi “penggembala”
dalam negeri ditentukan oleh mutu pendidikan. Mutu
pendidikan di Jawa, misalnya, lebih unggul dari luar
Jawa. Konsekuensinya, penggembala kita kebanyakan
berasal dari Jawa atau orang luar Jawa yg mengenyam
pendidikan di Jawa.

Dalam konteks kompetisi mahasiswa Indonesia di luar
negeri, lulusan Amerika dan negara Barat lain lebih
banyak mendominasi posisi di pusat maupun daerah–baik
sebagai pejabat maupun sebagai intelektual–di
banding, misalnya, lulusan negara-negara berkembang
seperti Mesir, Pakistan dan India.

Pertanyaan penting ketiga, mengapa pendidikan yg
unggul dapat menciptakan manusia yg berkualitas
sebagai penggembala? Banyak faktor. Salah satunya
adalah karena pendidikan yg bermutu dapat menciptakan
suasana kondusif bagi anak didik untuk selalu banyak
membaca (dan menulis); dan menjadikan kebiasaan
membaca itu sebagai gaya hidup (life-style)
kesehariannya.

Sayangnya, saya tidak melihat hal itu (membaca dan
menulis sebagai gaya hidup) sebagai kultur yg inheren
dalam diri mahasiswa maupun masyarakat Indonesia di
India. Tradisi mahasiswa India yg gigih dan
hard-working–sehingga mereka mendominasi
dunia–tampaknya tidak menular dan ‘memberkahi’ kita.
Yg menular ke kita justru kultur tukang Rikshaw yg
pemalas, yg kalau lagi asik merokok atau ngobrol
sampai menolak penumpang.

Dg demikian, timbul pertanyaan keempat dan terakhir,
apakah mahasiswa Indonesia di India, mampu
berkompetisi dg mahasiswa Indonesia dari negara lain
atau dg yg di tanah air? Apabila “tradisi tukang
rikshaw” masih menjadi kultur kita, maka jawabnya
jelas: “No Way!”

Ketidaksukaan membaca (dan menulis), membuat status
akademis dan gelar kita dipertanyakan, karena hal itu
akan tergambar secara jelas saat kita berbicara. Semua
akan tampak salah. Omongan kita jadi terasa hambar.
Ada pepatah Inggris yg cukup tepat dalam soal ini,
“Three days without reading, talking become
flavorless.” Ketika bicara kita terasa hambar di mata
orang lain, maka kita pun menjadi manusia yg hambar
dan tidak menarik.

Saya tutup refleksi ini dg sebuah kutipan dari buku
‘Now and Then’ (1998) karya Joseph Heller, “Some men
are born mediocre, some men achieve mediocrity, and
some men have mediocrity thrust upon them.”[]

Mario Gagho
Agra University
www.ppi-india.org

Iraq Terseret Perang Saudara?

Jawa Pos, Senin, 16 Mei 2005,

Oleh A. Fatih Syuhud

Munculnya pemerintahan baru yang didominasi Syiah pimpinan Perdana Menteri Ibrahim Jaafari kembali membuka luka-luka sektarian di Iraq. Sejak Jaafari mengumumkan susunan kabinet parsial, kekerasan meningkat. Para pengebom bunuh diri, sebagian mengendarai mobil yang dipenuhi bahan peledak atau berjalan kaki, melancarkan serangan yang menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai ratusan lainnya.

Saat tulisan ini dibuat (11/5/05), BBC melaporkan bahwa 70 orang lagi tewas oleh bom pinggir jalan. Sejumlah kelompok Sunni, yang memelopori resistansi Iraq namun akhirnya termarginalisasi dari politik mainstream, diduga berada di balik semua kekerasan yang terjadi.
Gelombang baru kekerasan itu mengindikasikan sebuah pakem, merefleksikan perimbangan kekuatan yang telah mengunci sejumlah kelompok agama dan etnis Iraq.

***

Sebelumnya, kaum Syiah menjadi target utama. Tetapi, saat ini, suku Kurdi, tampaknya, menjadi sasaran baru berbagai serangan itu. Syiah dan Kurdi yang terpinggirkan selama berabad-abad secara efektif mengganti posisi Sunni yang secara historis berkuasa di Iraq.

Pada 1 Mei, di Talafar -kota dekat perbatasan Syria-, seorang pengebom bunuh diri menabrakkan mobilnya ke sebuah kemah yang dipenuhi pelayat yang berkumpul untuk acara pemakaman seorang pemimpin Kurdi yang tewas. Sekitar 30 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka.

Pejabat Kurdi menyatakan, sejumlah orang bersenjata
mencegah ambulans yang mengangkut korban ke rumah sakit yang berakibat terjadinya pertempuran di jalan.

Tiga hari kemudian, seorang pengebom bunuh diri yang berjalan kaki menyerang sejumlah orang Kurdi yang sedang antre di luar kantor Partai Demokratik Kurdi (PDK) yang juga berfungsi sebagai pusat perekrutan polisi di Irbil, kawasan Iraq Utara. Sekitar 60 orang terbunuh di luar sebuah klinik di Kota Hilla.

Ketegangan hubungan antara kaum Kurdi dan Sunni memang sudah terjadi, khususnya di kawasan utara kota minyak Kirkuk. Kurdi mengklaim Kirkuk sebagai miliknya. Tetapi, hal tersebut ditentang Arab Sunni yang ditempatkan di kawasan itu dalam jumlah besar oleh pemerintahan Partai Baath di bawah mantan Presiden Saddam Hussein.

Berbagai serangan dan kekerasan mutakhir diperkirakan semakin mempertajam ketegangan antara kedua komunitas dan mungkin semakin mendorong kaum Kurdi untuk menuntut kemerdekaan serta membentuk negara Kurdistan.

***

Sejumlah kelompok Sunni yang dikenal dekat dengan kalangan perlawanan telah mengungkapkan ketidakpercayaannya pada pemerintahan baru Syiah di bawah Jaafari.

“Kami tidak percaya bahwa pemerintah baru akan bisa memecahkan masalah pendudukan Iraq. Kami tidak percaya pemerintah,” ujar Harith al-Dhari, direktur Association of Muslim Scholars (AMS), sebuah organisasi berpengaruh Sunni yang dikenal dekat dengan kelompok resistansi, seperti yang dikutip stasiun TV Al Jazirah (8/5/05).

Ketegangan laten Sunni-Syiah saat ini sudah mengemuka. Pada 4 Mei, kekacauan berkecamuk antara mahasiswa Syiah dan Sunni di kampus Universitas Baghdad setelah terbunuhnya seorang ketua mahasiswa Syiah. Masar Sarhan, 24, terbunuh setelah mengundang para mahasiswa untuk mengadakan syukuran di dalam kampus atas terbentuknya kabinet Jaafari yang baru.

Kekacauan itu bisa menyebar ke kampus-kampus lain karena banyak mahasiswa Syiah yang menuntut pembalasan dendam atas kematian Sarhan.

Hasil investigasi Wall Street Journal (16/2/05) menyatakan, munculnya sejumlah milisi bersenjata dan grup -serta tidak sedikit di antaranya yang dikontrol Amerika dan beroperasi dari kawasan Green Zone di Baghdad yang dijaga superketat- telah menambah dimensi baru yang sangat buruk dalam konteks politik sektarian dan komunal di Iraq.

Di antaranya, Special Police Commando (SPC) yang berkekuatan sedikitnya 10.000 orang dan cukup high profile. Grup tersebut dikenal pernah melakukan opsi Salvador, sebuah kebijakan untuk menarget pembunuhan tingkat tinggi yang pernah dilakukan tim berani mati bimbingin AS di El Salvador.

Grup itu dipimpin Adnan Thavit al-Samarrai, seorang loyalis mantan Perdana Menteri Iyad Allawi. Pada 1996, dia menjadi bagian sebuah kelompok yang hendak melakukan kudeta yang digagalkan untuk melengserkan pemerintahan Saddam.

Dua kelompok milisi lain di bawah Allawi adalah Muthana Brigade dan Defenders of Khadamiya. Kendati Allawi tidak lagi menjadi bagian dari pemerintah baru, dia mungkin masih akan berperan sebagai pusat kekuatan berpengaruh di bawah dukungan AS.

Marinir AS juga melatih milisi Iraqi Freedom Guard (
IFG) dan Freedom Fighters (FF). Kedua kelompok milisi tersebut terdiri atas sejumlah besar kaum Syiah dari selatan dan telah dikerahkan untuk melawan Sunni di provinsi pusat perlawanan Sunni, Anbar.

AS juga mengeksploitasi pejuang Kurdi Peshmerga yang konon ikut bertempur melawan Sunni di Fallujah dalam serangan besar pimpinan AS di kota itu pada November 2004.

Di luar pengaruh AS, pasukan Mehdi pimpinan Muqtada Al-Sadr mengontrol jalanan di banyak kota yang menjadi kantong kaum Syiah dan memberikan kontribusi pada pemerintahan de facto tingkat lokal. Kota selatan Iraq, Basra, saat ini menjadi pusat baru yang berada dalam kontrol milisi Syiah.

Munculnya sejumlah pusat kekuatan, beberapa di a
ntaranya beroperasi dengan bantuan AS, telah memberikan bahan dasar yang diperlukan menuju perang saudara yang akan berlangsung lama di Iraq.

*. A. Fatih Syuhud, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India

“I have listened, I have learnt”

Oleh Mario Gagho

Kalimat di atas diucapkan PM Inggris Tony Blair
setelah mendengarkan pidato Reg Keys, member of
parliament (MP) dari partai Liberal Democrat hasil
pemilu yg baru rampung beberapa hari lalu. Reg Keys
mengkritik tajam Tony Blair yg dia anggap telah
berbohong soal Irak dan mengakibatkan ayah Rey Keys
meninggal di Irak.

Menarik dicatat bahwa saat Reg Keys mengecam Tony
Blair, Blair berdiri persis di belakangnya. Di samping
Blair, berdiri para pendukung Reg Keys dari partai
Liberal Demokrat memakai topi bertulisan “BLIAR”
(maksudnya, Blair Penipu!). Blair melihat semua ini dg
sikap tenang, dan setelah pidato berapi-api Reg Keys
selesai, Blair merespons singkat dg “I have listened,
and I have learnt”. Kutipan kalimatnya ini pada besok
harinya juga menjadi judul headline koran Inggris The
Spectator (6/5/05).

Di Washington, beberapa bulan lalu, Presiden George W.
Bush mengadakan jumpa pers di Gedung Putih. Salah satu
hal yg ditanya wartawan adalah, “Bagaimana sikap Anda
dalam menghadapi berbagai kritikan, terutama soal Irak
dan ekonomi dalam negeri?” Jawaban Bush patut selalu
diingat, “Kritik saya anggap sebagai part of the job.
Sebagai pejabat publik, saya harus menerima dan
mendengarkan kritikan dari siapapun.”

Persis besok harinya, saya mengikuti pertemuan dg
Menteri Pertanian di Wisma Duta KBRI. Salah satu
kalimat menarik yg relevan dg bahasan ini adalah saat
dia menerangkan sejumlah alasan di balik kebijakan
pemerintah menaikkan BBM. Pidatonya saat itu ditutup
dengan, “Mahasiswa tahunya cuma ngomong.” Sayang,
tidak ada waktu untuk tanya jawab saat itu, karena
menurut Dubes Danillo Anwar, waktunya sangat sempit.

Beberapa bulan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang
Yudoyon (SBY) saat ditanya hal yang sama dg pertanyaan
yg diajukan pada Bush menjawab singkat, “I dont care!”

***

Dua sikap yg sangat berbeda antara Blair dan Bush di
satu pihak, serta SBY dan Menteri Pertanian kita di
pihak lain mewakili dan menggambarkan suatu tipikal
budaya antara negara yg sudah terbiasa hidup dalam
nilai-nilai demokrasi dg kultur negara kita yg sudah
terlalu lama hidup di alam tirani, feodalisme dan
aristokrasi.

Sistem demokrasi yg sudah mapan secara intrinsik (dg
sendirinya) akan menciptakan budaya sikap yg sehat
dalam tatanan sosial tidak hanya bagi kalangan pejabat
tapi juga masyarakat. Nilai-nilai demokrasi yg sangat
menonjol seperti liberty (kebebasan) dan equality
(persamaan) apabila sudah mentradisi dalam masyarakat
dan kalangan pejabat akan menciptakan sikap yg sangat
ideal tidak hanya dalam hidup bernegara tapi juga
bersosial seperti keterbukaan, kejujuran,
kesederhanaan dan kerendahatian.

Sistem demokrasi sudah berjalan sekitar 5 tahunan.
Sudahkah tradisi dan nilai-nilai demokrasi terserap
dalam keseharian sikap kita?

Dalam konteks masyarakat Indonesia di India, saya
melihat pejabat KBRI New Delhi justru lebih cepat
beradaptasi dg tradisi demokrasi ini, dibanding kita
yg mahasiswa. Dari beberapa fenomena keseharian, baik
di lapangan maupun dalam diskusi yg berjalan di milis
ini, tampak bahwa tidak sedikit dari mahasiswa yg
masih sulit menerima dg lapang dada pada budaya
demokrasi– khususnya dalam menerima kritikan. Tidak
dapat menerima kritik ini akan berdampak tidak mau
mendengarkan apa yg dikatakan si pengeritik,
sebaliknya malah mempersiapkan “jurus andalan” untuk
membalas. Ini tradisi kurang sehat.

Kalau kebiasaan sulit menerima kritikan ini sampai
terbawa ketika kita jadi pejabat kelak, maka yg
terjadi adalah pseudo-democracy (demokrasi palsu). Di
mana sang pejabat dipilih rakyat, tetapi pada waktu yg
sama tidak mau mendengarkan kata-kata rakyat.

Secara pribadi, banyak kebijakan politik Tony Blair yg
tidak saya suka, terutama invasinya ke Irak. Tapi,
saya sangat mengagumi pribadinya yg sangat rendah hati
ketika dia mengucapkan “I have listen and I have
learnt” itu.

Ironisnya, tidak sedikit para ulama, ustadz dan
kalangan moralis lain yg rajin mengutip ayat Kitab
Suci atau Hadist tapi bersikap arogan. Sikap arogan
tidak harus dalam bentuk berjalan pongah dg dagu
terangkat, tapi yg lebih faktual adalah ketika Anda
masih sulit menerima kritik. Sulit “mendengar dan
mempelajari” isi kritik. Memang semuanya perlu proses
pembelajaran.

Dan belajar ‘mendengar dan mempelajari’ termasuk salah
satu hal tersulit bagi sebagian kalangan yg tidak
biasa melakukannya.[]